Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik Jadi Rp16.865

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berakhir di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (11/3/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.865/US$ atau melemah 0,06%. Pergerakan ini membalikkan arah rupiah dibandingkan perdagangan sebelumnya, saat mata uang Garuda sempat menguat cukup tajam 0,47% ke level Rp16.855/US$.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sejatinya sempat dibuka menguat. Pada awal sesi, rupiah tercatat terapresiasi 0,21% ke posisi Rp16.820/US$. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga penutupan dan akhirnya berbalik ke zona merah.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB justru terpantau menguat 0,03% ke level 98,858.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan bahwa mata uang domestik masih belum cukup kuat mempertahankan momentum penguatannya, meskipun dolar AS secara global justru sedang bergerak stabil.

Di pasar global, dolar AS bergerak menguat tipis seiring pelaku pasar masih menunggu arah perkembangan perang AS-Israel melawan Iran. Sinyal yang masih campur aduk terkait peluang meredanya konflik membuat sentimen investor masih rapuh.

Pasar sebelumnya sempat berharap Presiden AS Donald Trump akan mendorong penyelesaian konflik dalam waktu dekat. Namun di sisi lain, Trump juga berulang kali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, terutama jika Teheran mencoba mengganggu jalur pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati perkembangan fiskal pemerintah setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit APBN yang sudah melebar sejak awal tahun memang merupakan bagian dari desain anggaran.

"Ada yang bilang tahun lalu surplus, kenapa tahun ini defisit? Ya memang desain APBN kita defisit," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN, Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan, defisit yang besar pada awal tahun terjadi karena belanja negara bergerak lebih cepat.

Sepanjang Januari-Februari 2026, APBN tercatat defisit Rp135,7 triliun, dengan belanja negara mencapai Rp493,8 triliun dan pendapatan negara sebesar Rp358 triliun. Pemerintah juga menegaskan kini tengah mendorong pola belanja yang lebih merata sepanjang tahun.

"Sekarang kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah dan lain-lain ke perekonomian lebih terasa," ujar Purbaya.

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|