Oleh Muhammad Fadli Muslimin; Dosen Institut Seni Budaya Indonesia Aceh
REPUBLIKA.CO.ID,Dua dekade setelah tsunami meluluhlantakkan pesisir Aceh, sebuah paradoks muncul di bangunan-bangunan sekolah bantuan donor. Kokoh di atas panggung tapi tak berdaya menghadapi tempias hujan tropis. Di SDN Lampageu, tim dosen ISBI Aceh hadir dengan solusi arsitektur partisipatif: panel anti-tempias modular yang tak sekadar mengeringkan koridor, tetapi juga menghidupkan kembali resiliensi komunitas.
Aceh menjadi tanah yang akrab dengan duka dan luka pascabencana. Dua puluh tahun setelah gempa dan tsunami 2004 meratakan pesisirnya, banjir besar November 2025 kembali mengoyak kehidupan lebih dari 2,5 juta jiwa di sejumlah kabupaten/kota. Status tanggap darurat diberlakukan empat kali berturut-turut hingga Januari 2026, sebuah indikasi betapa dalamnya kerusakan yang ditinggalkan.
Di sektor pendidikan, angkanya menyesakkan: 3.274 satuan pendidikan rusak, 6.431 ruang kelas hancur, 276.249 siswa kehilangan ruang belajar, dan 52 anak serta 15 guru kehilangan nyawa. Di Aceh Tamiang saja, 439 bangunan sekolah rusak, 73 di antaranya rusak berat, sebagian besar terendam lumpur dan tertimbun kayu gelondongan. Bencana ini bukan hanya merusak bangunan; ia merusak ritme tumbuh generasi.
Pemerintah bergerak cepat. Kemendiktisaintek, pada fase tanggap darurat, mengerahkan sejumlah perguruan tinggi di Aceh, termasuk USK, Unimal, Politeknik Negeri Lhokseumawe, dan ISBI Aceh, untuk menjadi posko utama logistik, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial. Pada fase pemulihan, program “Mahasiswa Berdampak” dimobilisasi untuk melibatkan mahasiswa dalam pemulihan berbasis keilmuan. Begitu juga Kemendikdasmen menggelontorkan bantuan Rp 2,9 triliun di berbagai wilayah Sumatera.
Revitalisasi dilakukan masif di berbagai jenjang. Namun, yang kerap luput dari perhatian adalah fakta bahwa selang 22 tahun pasca-tsunami 2004, sekolah-sekolah yang dibangun ulang kala itu kini telah tergerus usia dan perlu mendapatkan perhatian. Terlebih lagi, dalam proses revitalisasi sekolah pascabencana, ada kecenderungan mengabaikan fungsi estetika ornamen yang menyimpan memori kolektif budaya Aceh yang kental dan kuat.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
2
















































