Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Ketegangan di Selat Hormuz kian meningkat setelah Iran memperingatkan potensi serangan terhadap kapal perang yang mencoba melintas di jalur vital tersebut.
Situasi ini berkembang di tengah berlangsungnya perundingan Iran dan Amerika Serikat di Islamabad yang hingga kini telah berjalan lebih dari delapan jam dan memasuki putaran ketiga.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran yang menegaskan pihaknya memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, hanya kapal sipil yang diizinkan melintas dengan ketentuan tertentu.
“Setiap upaya kapal perang untuk melintasi Selat Hormuz akan dicegah secara tegas. Angkatan Laut IRGC saat ini memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Hanya kapal sipil yang diizinkan melintas dengan kondisi tertentu,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari kantor berita Fars.
Di sisi lain, IRGC membantah laporan yang menyebut kapal perang AS telah melintasi kawasan tersebut. Namun, sebelumnya Angkatan Bersenjata Iran dilaporkan memantau pergerakan kapal perusak AS yang berangkat dari pelabuhan Fujairah menuju Selat Hormuz.
Pergerakan itu tidak hanya dipantau, tetapi juga dilaporkan secara langsung kepada delegasi Iran yang tengah berunding. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada pihak AS melalui perantara Pakistan.
Menurut laporan tersebut, Iran bahkan telah memberikan peringatan keras bahwa kapal tersebut bisa menjadi target serangan dalam waktu singkat jika tetap melanjutkan pelayaran. Ancaman ini dinilai berpotensi mengganggu jalannya negosiasi.
Ketegangan ini muncul setelah Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran pada 8 April 2026.
Dalam perundingan tersebut, delegasi Iran dipimpin oleh Mohammad Bagher Ghalibaf, didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Akbar Ahmadian, serta Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
Sementara itu, delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Isu mengenai Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling krusial dalam negosiasi kedua negara. Ketegangan di jalur energi dunia ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

















































