Sering Menguap Tanpa Sebab? Kenali Fungsi dan Tandanya bagi Kesehatan

4 hours ago 4

Sering Menguap Tanpa Sebab? Kenali Fungsi dan Tandanya bagi Kesehatan

Ilustrasi menguap/magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Di balik kebiasaan menguap yang kerap dianggap sepele, tersimpan berbagai fakta ilmiah yang menarik. Mulai dari membantu menjaga suhu otak hingga menjadi sinyal tertentu bagi kondisi kesehatan, menguap ternyata memiliki fungsi yang lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami.

Menguap merupakan respons alami tubuh yang telah lama menarik perhatian para peneliti. Bahkan, fenomena menguap yang menular masih menyimpan sejumlah pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab hingga saat ini.

Mengutip Cleveland Clinic, terdapat dua jenis menguap yang dikenal dalam dunia medis. Pertama, spontaneous yawn atau menguap spontan yang terjadi secara alami. Kedua, contagious yawn atau menguap menular yang muncul sebagai respons ketika seseorang melihat, mendengar, atau mengetahui orang lain sedang menguap.

Penelitian pada 2011 menemukan bahwa menguap spontan maupun menguap menular diduga berasal dari mekanisme dasar yang sama, yakni mekanisme yang membantu mengatur suhu otak. Karena itu, sejumlah peneliti berteori bahwa seseorang dapat ikut menguap ketika berada di lingkungan dengan kondisi suhu yang serupa sehingga otaknya merespons kebutuhan yang sama untuk menyesuaikan suhu internal.

Temuan tersebut kemudian mendorong lahirnya penelitian lanjutan mengenai faktor yang memicu menguap menular. Salah satu pertanyaan yang muncul ialah apakah melihat atau mendengar orang lain menguap sudah cukup untuk memicu respons serupa.

Penelitian pada 2022 mengonfirmasi bahwa seseorang memang lebih cenderung ikut menguap ketika melihat orang lain menguap. Namun, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa fenomena tersebut tampaknya tidak berkaitan secara langsung dengan rasa empati maupun respons emosional.

Para peneliti menduga menguap menular dapat menjadi bagian dari perilaku kelompok yang tersinkronisasi. Mengingat menguap membantu tubuh menjadi lebih waspada dan terjaga, respons tersebut mungkin merupakan mekanisme perlindungan diri yang membuat tubuh menyesuaikan kondisi dengan orang-orang di sekitarnya.

Selain menarik perhatian dunia sains, menguap juga melahirkan berbagai mitos sejak ratusan tahun lalu. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa seseorang harus menutup mulut ketika menguap agar jiwanya tidak keluar dari tubuh.

Dokter spesialis kedokteran keluarga, Donald Ford, MD, mengatakan bahwa manusia menguap ketika merasa mengantuk, bosan, atau bahkan tanpa alasan yang jelas.

"Kita semua menguap ketika merasa mengantuk atau bosan, atau terkadang tanpa alasan yang jelas sama sekali," kata Donald Ford, MD.

Meski demikian, para ilmuwan meyakini menguap memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh.

Pertama, menguap diduga membantu meningkatkan kewaspadaan. Para peneliti berteori bahwa ketika seseorang menguap, otot-otot pada wajah dan leher akan bergerak sehingga merangsang arteri karotis. Rangsangan tersebut kemudian meningkatkan denyut jantung dan membantu otak memasuki kondisi yang lebih aktif sehingga tubuh menjadi lebih terjaga.

Kedua, menguap membantu meredakan tekanan udara pada telinga bagian tengah. Kondisi ini kerap dirasakan ketika seseorang berada di dalam pesawat saat lepas landas maupun mendarat.

"Menguap membantu membuka saluran eustachius, yang berfungsi mengatur tekanan udara di telinga bagian tengah," ujar Donald Ford, MD.

Ketiga, menguap juga diduga membantu mengatur suhu otak melalui proses termoregulasi. Para peneliti mengibaratkan mekanisme tersebut seperti sistem pendingin pada komputer yang berfungsi menjaga suhu perangkat tetap stabil.

"Mereka berteori bahwa sebagaimana komputer memiliki mekanisme pendingin agar tidak mengalami panas berlebih, komputer tubuh kita yakni otak menggunakan menguap untuk membantu mengatur suhunya," katanya.

Donald Ford menjelaskan rata-rata seseorang menguap sekitar 20 kali dalam sehari. Frekuensi tersebut pada umumnya masih tergolong normal dan tidak perlu dikhawatirkan.

Namun demikian, masyarakat perlu memperhatikan apabila frekuensi menguap meningkat secara signifikan dibandingkan biasanya, terutama jika tidak dipicu oleh rasa lelah maupun bosan. Menguap yang terjadi secara berlebihan dalam beberapa kasus dapat berkaitan dengan gangguan neurologis seperti epilepsi, migrain, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, hingga strok.

"Jika merasa menguap jauh lebih sering daripada biasanya, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|