REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Upaya penguatan ekonomi dan keuangan syariah di berbagai daerah menunjukkan arah yang semakin terintegrasi, mulai dari literasi di tingkat akar rumput hingga dorongan pembentukan regulasi payung di tingkat nasional.
Di Bank Indonesia, komitmen tersebut dijalankan secara simultan melalui pengembangan industri, inovasi keuangan, dan peningkatan literasi masyarakat.
Di Sulawesi Selatan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (KPw BI Sulsel) menggandeng Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) Sulsel untuk meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) dan Lomba Dakwah. Program ini merupakan bagian dari Sharia Championship dalam rangkaian besar Pekan Ekonomi Syariah (PESyar) 2026 yang berlangsung sepanjang Ramadhan.
Sebanyak 140 santri dari berbagai pondok pesantren di Sulsel mengikuti ToT tersebut. Mereka dibekali materi tentang pengembangan personal branding, ekonomi dan keuangan syariah, serta halal lifestyle agar mampu menyampaikan dakwah yang informatif, relevan, dan kontekstual.
Langkah ini tidak sekadar mendorong penguatan aspek spiritual, tetapi juga memposisikan santri sebagai agen transformasi ekonomi umat yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan Lomba Dakwah tingkat SMA/MA sederajat. Dari puluhan peserta, dipilih 10 finalis, lima dai dan lima daiyah, yang akan dipersiapkan mewakili Sulsel pada ajang Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) tahun ini.
Melalui sinergi tersebut, BI berharap lahir pendakwah muda yang mampu mengintegrasikan pesan keagamaan dengan edukasi ekonomi syariah di tengah masyarakat.
Semangat serupa juga terlihat di Sulawesi Utara. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (BI Sulut) menegaskan komitmen daerahnya untuk mendukung Indonesia meraih peringkat pertama dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE).
Saat ini, Indonesia menempati posisi ketiga dunia dalam SGIE Report 2024/2025, sekaligus mempertahankan posisi tertinggi dalam ekosistem ekonomi syariah global.
Indonesia telah unggul di sektor busana Muslim dengan peringkat pertama dunia, serta menunjukkan daya saing di sektor makanan halal, wisata ramah Muslim, farmasi, dan kosmetik halal. Namun, untuk mencapai posisi puncak, penguatan sektor-sektor yang relatif tertinggal tetap diperlukan.
Untuk itu, BI mengarahkan kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui tiga pilar utama yang dirangkum dalam konsep “IKLAS”: Industri Syariah, Keuangan Syariah, dan Literasi Syariah.
Pada pilar industri, penguatan difokuskan pada halal food, modest fashion, dan pariwisata ramah Muslim. Pilar keuangan syariah mendorong inovasi serta digitalisasi layanan, sementara pilar literasi dijalankan melalui edukasi dan sosialisasi berkelanjutan.
Strategi ini dirancang agar pengembangan ekonomi syariah tidak hanya tumbuh secara sektoral, tetapi menjadi ekosistem yang solid dari hulu ke hilir.
Di sisi lain, praktik ekonomi syariah di tengah masyarakat berkembang pesat. Warga menyalurkan zakat produktif dan wakaf, pelaku usaha mengurus sertifikasi halal, hingga nasabah memilih pembiayaan berbasis akad syariah. Namun, dinamika ini belum sepenuhnya diimbangi dengan kerangka regulasi yang terintegrasi.
Kepala Divisi Hukum Pengembangan Ekonomi Syariah di Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menilai kebutuhan Undang-Undang (UU) Ekonomi Syariah harus dilihat dari parameter kebutuhan sosial yang nyata.
Praktik ekonomi syariah telah berjalan luas, tetapi pengaturannya masih tersebar dalam berbagai undang-undang sektoral, sehingga norma yang ada kerap terputus-putus dan belum menyatukan seluruh subsistem sebagai satu ekosistem.
Kondisi ini berimplikasi pada koordinasi antarinstansi yang rumit, biaya administrasi tinggi, dan kepastian hukum yang lemah, terutama bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat. Contohnya terlihat pada perlakuan zakat dan wakaf produktif dalam kebijakan fiskal maupun insentif pajak untuk instrumen syariah, termasuk akad murabahah.
sumber : Antara

2 hours ago
2
















































