Sisa Roket SpaceX Hantam Bulan, Ilmuwan Cari Kawah Baru

4 hours ago 7

Jumali

Jumali Rabu, 05 Agustus 2026 23:37 WIB

Sisa Roket SpaceX Hantam Bulan, Ilmuwan Cari Kawah Baru

Roket Falcon 9 milik SpaceX / NASA

Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah bagian roket Falcon 9 milik SpaceX yang sudah tidak lagi digunakan menghantam permukaan Bulan pada Rabu (5/8/2026). Peristiwa ini menarik perhatian komunitas ilmiah internasional karena memberikan kesempatan langka untuk mempelajari dampak benturan benda buatan manusia terhadap permukaan satelit alami Bumi tersebut.

Tumbukan terjadi di dekat Kawah Einstein yang berada di sisi Bulan yang menghadap ke Bumi. Berdasarkan data yang dihimpun sejumlah lembaga antariksa, bagian roket tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 5.400 mil per jam atau setara tujuh kali kecepatan suara sebelum akhirnya menghantam permukaan Bulan.

NASA memastikan insiden tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi. Namun, lokasi benturan kini menjadi objek penelitian penting untuk mengamati proses terbentuknya kawah baru akibat tabrakan berenergi tinggi.

Para ilmuwan menilai peristiwa ini sebagai eksperimen alami yang sangat berharga. Tidak setiap hari sebuah benda buatan manusia berukuran besar menghantam Bulan dengan kecepatan ekstrem sehingga menghasilkan dampak yang dapat dipelajari secara langsung.

Meski demikian, tidak ada wahana pengorbit Bulan yang berada pada posisi ideal untuk merekam momen tumbukan secara real time. Karena itu, penelitian akan dilakukan dengan membandingkan citra permukaan Bulan sebelum dan sesudah kejadian.

Salah satu wahana yang berpotensi memberikan data awal adalah Danuri, satelit pengorbit Bulan milik Korea Selatan. Wahana tersebut diketahui sempat melintas di sekitar area tumbukan tidak lama sebelum benturan terjadi.

Namun, tim pengelola Danuri menyatakan seluruh data yang diperoleh masih menjalani proses analisis bersama sejumlah lembaga penelitian sebelum dipublikasikan kepada publik.

Selain Danuri, para peneliti juga menaruh harapan pada Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA. Wahana tersebut diperkirakan akan berada dalam posisi yang memungkinkan untuk memotret lokasi tumbukan dalam beberapa hari setelah kejadian.

Jika berhasil memperoleh gambar yang jelas, ilmuwan dapat mengidentifikasi ukuran kawah baru, pola penyebaran material permukaan, hingga karakteristik tanah Bulan yang terdampak benturan.

Menurut laporan BBC, teleskop-teleskop yang berada di wilayah Amerika juga memiliki peluang untuk menangkap kilatan cahaya dan semburan debu saat tumbukan berlangsung karena kondisi langit saat itu masih gelap.

Meski demikian, data observasi semacam itu memerlukan proses pengolahan yang cukup panjang. Para ilmuwan harus memastikan seluruh informasi yang dikumpulkan akurat sebelum dipublikasikan.

Bagian roket yang menghantam Bulan diketahui merupakan tingkat atas (upper stage) Falcon 9 milik SpaceX. Roket Falcon 9 sendiri merupakan kendaraan peluncur dua tingkat yang digunakan untuk mengirim satelit, wahana antariksa, hingga astronaut ke orbit Bumi dan tujuan antariksa lainnya.

Komponen yang jatuh ke Bulan tersebut sebelumnya diluncurkan pada Januari 2025 untuk membawa dua wahana robotik yang ditugaskan melakukan misi pendaratan di Bulan.

Dalam operasinya, sebagian komponen Falcon 9 memang dirancang untuk kembali ke Bumi dan digunakan ulang pada misi berikutnya. Namun, beberapa bagian tertentu akan dilepaskan dan tetap berada di luar angkasa setelah tugasnya selesai.

Setelah menyelesaikan misinya, bagian atas roket tersebut terus mengorbit dalam lintasan yang sangat panjang. Seiring waktu, gravitasi Bulan memengaruhi jalurnya hingga akhirnya mengarahkannya ke permukaan satelit tersebut.

Peristiwa ini juga kembali mengingatkan dunia terhadap persoalan sampah antariksa yang semakin meningkat. Benda-benda buatan manusia yang ditinggalkan di luar angkasa kini jumlahnya terus bertambah dan menjadi perhatian serius bagi komunitas ilmiah global.

Astronom Universitas Cambridge, Dr. Matt Bothwell, menyebut tumbukan tersebut memang memberikan manfaat ilmiah, tetapi di sisi lain menunjukkan bagaimana ruang angkasa semakin dipenuhi puing-puing hasil aktivitas manusia.

Menurutnya, jika tidak dikelola dengan baik, kepadatan sampah antariksa berpotensi menyulitkan misi eksplorasi pada masa depan.

“Bukan tidak mungkin dalam beberapa dekade mendatang manusia akan semakin sulit mengirim wahana ke luar orbit Bumi karena ruang angkasa menjadi terlalu padat,” ujarnya.

Saat ini para ilmuwan masih menunggu citra terbaru dari lokasi tumbukan. Kawah baru yang diperkirakan terbentuk di dekat Kawah Einstein diharapkan dapat memberikan informasi penting mengenai karakteristik permukaan Bulan, dinamika benturan berenergi tinggi, serta dampak benda buatan manusia terhadap lingkungan antariksa.

Hasil penelitian tersebut nantinya juga dapat menjadi referensi penting bagi misi eksplorasi Bulan di masa depan, termasuk proyek pendaratan manusia dan pembangunan fasilitas permanen yang tengah disiapkan sejumlah badan antariksa dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|