Tantangan Berat di Segmen Anak Muda Perkotaan dan 3 Kriteria Vital Pemimpin NU Menurut Peneliti

5 days ago 21

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua dengan tantangan yang tidak lagi ringan. Perubahan demografi, meningkatnya tingkat pendidikan warga, pertumbuhan kelas menengah, serta semakin kuatnya arus urbanisasi menuntut organisasi Islam terbesar di Indonesia itu melakukan penyesuaian agar tetap relevan, terutama di kalangan generasi muda perkotaan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan yang akan dihadapi NU dalam Muktamar ke-35 yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, pada akhir Agustus 2026. Selain membahas arah dan kebijakan organisasi ke depan, salah satu agenda penting muktamar adalah pemilihan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode mendatang.

CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengatakan, siapa pun yang nantinya terpilih memimpin NU harus memahami perubahan besar yang sedang terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Menurut dia, NU abad kedua tidak bisa lagi dikelola dengan cara yang sama seperti NU pada abad pertama.

Hasanuddin menjelaskan, selama ini terdapat tiga faktor utama yang membuat seseorang menjadi NU. Pertama, karena dilahirkan dari keluarga NU atau memperoleh identitas NU sebagai warisan keluarga. Kedua, karena mendapatkan pendidikan dari institusi NU, seperti pesantren dan sekolah Ma’arif. Ketiga, karena lingkungan dan pergaulan yang membentuk identitas ke-NU-an seseorang.

Namun, ketiga faktor tersebut kini tidak lagi menjadi faktor dominan, khususnya bagi generasi Z. “Bagi Gen Z, dia menjadi NU tapi bukan NU yang sekadar diwariskan. Mereka butuh alasan lebih riil kenapa saya jadi NU,” ujar Hasanuddin dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertema 'Stop Politik Transaksional di Muktamar NU', di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Fenomena tersebut, kata dia, terutama terlihat di kota-kota besar di Indonesia. Generasi muda perkotaan tidak otomatis merasa menjadi bagian dari NU hanya karena latar belakang keluarga atau lingkungan. Mereka membutuhkan alasan yang lebih konkret mengenai relevansi NU dengan kehidupan mereka. “Saya berharap besar bagi NU di perkotaan, itu tantangannya berat sekali,” katanya.

Menurut Hasanuddin, persoalan anak muda dan perkotaan harus menjadi salah satu perhatian utama dalam Muktamar ke-35 NU. Karena itu, forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga menghasilkan keputusan yang relevan dengan persoalan masyarakat NU hari ini.

NU juga dinilai perlu memberikan ruang lebih luas bagi kelompok perempuan. Hasanuddin menyebut isu anak muda, perkotaan, pendidikan, kelas menengah, dan perempuan sebagai bagian penting dalam peta jalan NU untuk 25 tahun ke depan. Karena itu, agenda pemilihan ketua umum dalam Muktamar ke-35 menjadi penting bukan semata-mata karena menentukan siapa yang akan memimpin organisasi, tetapi juga karena pemimpin terpilih akan menentukan bagaimana NU merespons perubahan tersebut.

Muktamar ke-35 NU di Jombang dinilai tidak cukup hanya menjadi arena menentukan siapa yang akan memimpin PBNU, tetapi juga momentum menentukan arah NU memasuki fase baru. Pemimpin yang terpilih akan dihadapkan pada pekerjaan besar: memastikan NU tetap memiliki akar kuat dalam tradisi sekaligus mampu menjawab perubahan masyarakat Indonesia yang semakin terdidik, urban, muda, dan didominasi kelas menengah.

Tiga kriteria

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|