Tiba-Tiba Masuk Desil 7, Mahasiswa Unesa dengan IPK 4 Gagal Daftar Beasiswa Be Smart

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Perbedaan data desil kesejahteraan hampir membuat Diandrea Fristi Esfandiari Zulkarnain, mahasiswi semester 3 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), gagal mendaftar Beasiswa Be Smart yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya. Data dalam sistem sempat mencatat keluarganya berada di desil 7, berbeda dengan kondisi ekonomi yang ia alami sehari-hari.

Saat dihubungi Republika, Diandrea menceritakan kronologi tersebut. Dia mengatakan persoalan tersebut diketahui saat dirinya kembali mencoba mendaftar Be Smart setelah sebelumnya gagal pada semester pertama. Saat itu, ia memiliki catatan akademik yang sangat baik dengan IPK semester pertama 4,00 dan IPK semester kedua 3,95. Namun, ketika hendak mendaftar, status desil justru menjadi kendala.

"Saya daftar Be Smart di semester akhir semester 1. IPK saya waktu itu sempurna 4. Saya harap lolos, ternyata saya enggak lolos. Akhirnya saya coba lagi di semester 2, hasil IPK semester 2 saya 3,95. Saya masih percaya diri bakal lolos, ternyata ada kendala desil," kata Diandrea saat dihubungi Republika, Kamis (27/8/2026). 

Dia kemudian menanyakan status tersebut kepada orang tuanya. Dari informasi yang diperoleh, keluarganya memang tercatat berada di desil 7. Diandrea lantas melakukan sanggahan. Setelah beberapa kali proses, status desil keluarganya akhirnya berubah menjadi desil 2.

"Sampai akhirnya Alhamdulillah bisa jadi desil dua. Terus akhirnya saya cek di Cek Bansos, desil saya dua," ujarnya.

Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai. Ketika membuka laman Be Smart, data Diandrea masih menunjukkan kelompok desil 6-10. Padahal, pada layanan Cek Bansos Kementerian Sosial, status keluarganya sudah tercatat desil 2.

Perbedaan data tersebut membuat Diandrea kebingungan. Dia kemudian meminta bantuan seorang gurunya untuk mencari tahu penyebab perbedaan data tersebut. Dari komunikasi itu, akhirnya perangkat setempat mendatangi rumahnya untuk melakukan pengecekan.

"Saya cuma tanya kenapa desil saya berbeda? Dari web Cek Bansos sama Be Smart itu kenapa berbeda? Saya enggak berekspektasi mau dibantu atau apa pun," tuturnya.

Menurut Diandrea, dalam data sebelumnya bahkan terdapat sejumlah informasi yang tidak sesuai dengan kondisi keluarganya. Data tersebut mencatat keluarganya memiliki tiga mobil. Selain itu, dia juga tercatat sebagai karyawati, padahal saat pendataan ia masih berstatus mahasiswa dan belum lama lulus SMA.

"Di data desil 7 itu saya punya mobil tiga, terus saya terdaftar karyawati padahal saya baru lulus (SMA)," katanya.

"Kalau di Be Smart ini masih tetap 6 sampai 10, belum (berubah), karena ada surat keterangan ini bisa melanjutkan (pendaftaran beasiswa Be Smart -Red)," ujarnya.

Diandrea akhirnya dapat melanjutkan pendaftaran Be Smart dan kini tinggal menunggu pengumuman penerima beasiswa yang dijadwalkan pada 4 September 2026. Di tengah persoalan data tersebut, Diandrea mengaku bantuan beasiswa sangat berarti bagi keberlangsungan kuliahnya. Dia mengatakan, berasal dari keluarga sederhana.

Ayahnya bekerja mengantar air isi ulang, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Untuk membantu memenuhi kebutuhan kuliah, Diandrea juga membuat dan menjual gantungan kunci secara mandiri.

"Papa saya kerjanya air isi ulang, mengantar air isi ulang ke sekitar. Kalau Ibu, ibu rumah tangga," katanya.

Untuk membayar UKT, keluarganya sempat meminjam uang kepada saudara karena belum memiliki cukup dana. Diandrea juga menggunakan tabungan dan hasil penjualan gantungan kunci untuk membantu melunasi pinjaman tersebut.

"Pinjam saudara, kurang sedikit sih, karena Alhamdulillah sudah punya tabungan dan saya juga jualan gantungan kunci jadi bisa menolong bayar uang. Tapi Alhamdulillah sempat utang sudah dilunasi karena sudah dapat bantuan," ujarnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|