Jakarta, CNBC Indonesia — Industri pembiayaan mulai mencatat perubahan tren pada awal 2026. Di satu sisi, pembiayaan kendaraan listrik melonjak tajam, sementara di sisi lain, secara umum pembiayaan mobil bekas justru tumbuh lebih cepat dibanding mobil baru.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance pada Januari 2026 mencapai Rp21,05 triliun, atau tumbuh 39,13% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya penjualan kendaraan listrik serta tren elektrifikasi kendaraan di Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Agusman menilai pembiayaan kendaraan listrik masih memiliki prospek pertumbuhan positif sepanjang tahun ini, didorong oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan berbasis energi baru serta dukungan ekosistem kendaraan listrik yang terus berkembang.
Di sisi lain, tren pembiayaan kendaraan roda empat menunjukkan pola berbeda. Dalam periode 2022-2025, piutang pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh rata-rata 6,80% yoy. Namun, segmen mobil bekas mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni sekitar 12,75% yoy.
Per Januari 2026, total penyaluran pembiayaan kendaraan roda empat oleh industri multifinance tercatat mencapai Rp229,43 triliun.
"Fenomena pertumbuhan yang lebih kuat pada kendaraan bekas mencerminkan antara lain preferensi masyarakat terhadap harga yang lebih terjangkau serta fleksibilitas pembiayaan," kata Agusman.
Sementara itu, total piutang multifinance per Januari 2026 mencapai Rp 508,27 triliun, naik 0,78% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan Januari tahun ini jauh melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025.
OJK pun menargetkan piutang multifinance dapat tumbuh 6%-8% secara tahunan. Angka itu dinilai realistis dengan mempertimbangkan target industri dan kondisi perekonomian. "Untuk mencapainya, perusahaan perlu mengoptimalkan potensi sektor dan wilayah yang prospektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko," kata Agusman.
(mkh/mkh)
Addsource on Google


















































