REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dalam pandangan para ulama tasawuf, dunia hanya tempat persinggahan sementara, laksana pasar bagi para musafir yang sedang mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang lebih kekal. Tubuh atau jasad manusia adalah kendaraan bagi jiwa selama di hidup di dunia.
Di dunia inilah manusia diberi kesempatan untuk mengenal Allah SWT melalui ciptaan-Nya, memelihara dan mensucikan jiwanya, serta mengendalikan hawa nafsunya agar tidak tersesat dari tujuan penciptaannya dan dapat meraih keselamatan di kehidupan abadi atau akhirat.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali yang dikenal sebagai Imam Al Ghazali dalam buku Kimiya al-Sa'adah menerangkan bahwa dunia ini ibarat sebuah pasar yang disinggahi para musafir (manusia) dalam perjalanan mereka ke tempat lain (akhirat). Di dunia inilah manusia membekali diri dengan berbagai perbekalan.
Dengan bantuan indra-indra yang dimiliki manusia, mereka harus memperoleh pengetahuan tentang ciptaan Allah, dan melalui perenungan terhadap semua ciptaan-Nya maka manusia akan mengenal Allah SWT.
Pandangan manusia mengenai Allah akan menentukan nasibnya di masa depan. Untuk memperoleh pengetahuan inilah ruh manusia diturunkan ke dunia (bumi). Selama indranya masih berfungsi, ia akan menetap di alam dunia. Jika semuanya telah sirna dan yang tertinggal hanya sifat-sifat esensinya, berarti ia telah pergi ke alam lain.

2 weeks ago
20

















































