Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saya memelihara satu kebiasaan kecil saat shalat malam. Selesai tahajud, saya membaca Al-Qur’an satu juz. Juz yang dibaca mengikuti tanggal. Tanggal 9 saya membaca Juz 9. Hari ini tanggal 14 Juz 14. Dan begitu seterusnya. Dengan cara sederhana itu, setiap bulan saya mengitari seluruh Al-Qur’an, juz demi juz.
Tapi saya tak sekadar mengejar target halaman. Kadang mata tertahan pada satu kalimat, satu kata, atau bahkan satu angka. Jika ada yang mengetuk perhatian, saya tak buru-buru menutup mushaf. Saya duduk lebih lama, mencoba memahami, mengapa angka itu disebut? Apa kata para mufasir dan apa penjelasan Nabi?
Beberapa hari lalu, mata saya tertahan pada sebuah angka: 70. Angka itu terdapat dalam Surah At-Taubah ayat 80:
> اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ
"Mohonkanlah ampunan bagi mereka atau jangan engkau mohonkan ampunan bagi mereka. Jika engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka."
Angka itu terasa dekat karena seusai tahajud saya juga selalu membaca istighfar sekurang-kurangnya 70 kali: Astaghfirullah wa atubu ilaih. Hanya beberapa menit. Tapi saya berusaha merawatnya sebagai kebiasaan yang saya ikuti dari teladan Nabi.
Maka ketika membaca ayat itu, saya seperti menemukan cermin kecil di halaman Al-Qur’an. Allah menyebut angka yang sama dengan jumlah istighfar yang biasa saya baca, sementara ayat itu berbicara tentang Nabi yang memohonkan ampunan bagi orang-orang tertentu.
Tentu saya tidak sedang menyamakan diri dengan Nabi. Jauh sekali. Saya hanya bertanya: mengapa angka 70? Pertanyaan ini membawa saya kepada hadis. Abu Hurairah meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari di hadits no. 6307 bahwa Nabi ﷺ bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
"Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam sehari."
Dalam Shahih Muslim hadits no. 2702, jumlah itu bahkan disebut 100 kali sehari. Jadi, kesimpulan saya, istighfar bukan pekerjaan sambilan Nabi. Ia bagian dari kehidupan spiritual beliau.
Lalu saya kembali kepada ayat tadi. Ayat ini bukan perintah kepada kita untuk membaca istighfar 70 kali. Allah sedang berbicara kepada Nabi tentang kaum munafik. Mereka orang-orang yang secara lahiriah berada di tengah masyarakat Muslim, tapi menyembunyikan kekafiran dan permusuhan.
Di sinilah muncul dugaan yang menarik. "Mungkin saja" angka 70 dalam ayat itu terasa begitu dekat dengan kebiasaan istighfar Nabi. Tapi saya tidak menemukan riwayat sahih yang secara tegas mengatakan bahwa kebiasaan Nabi beristighfar lebih dari 70 kali itu sudah berlangsung sebelum ayat ini turun. Karena itu, saya tidak ingin menjadikannya sebagai kepastian tafsir.
Namun, kemungkinan itu tetap menarik untuk direnungkan. Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat bagi semesta alam. Beliau tidak mudah menutup pintu harapan bagi manusia. Bahkan terhadap orang-orang yang menyakiti beliau, pintu maaf tidak segera ditutup. Kepada kaum munafik pun beliau tetap memperlakukan mereka berdasarkan apa yang tampak, bukan membongkar isi hati mereka sesuka hati.
Maka ketika Allah berfirman, "Jika engkau memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka," seakan memuat penegasan. Yaitu bahwa "sebanyak apa pun istighfarmu, Muhammad, ada keadaan ketika istighfar tidak lagi dapat mengubah keputusan Allah."
Menariknya, dalam riwayat yang dikutip At-Thabari dan Ibnu Katsir, Nabi justru mengatakan akan menambah istighfar lebih dari 70 kali. Seolah-olah beliau menangkap masih ada celah harapan dalam angka itu. Di sini terlihat sesuatu yang sangat indah dari pribadi Nabi. Beliau memilih jalan yang paling dekat dengan rahmat sebelum pintu itu benar-benar ditutup.
Kemudian turun Surah Al-Munafiqun ayat 6:
> سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ
"Sama saja bagi mereka, engkau memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Allah tidak akan mengampuni mereka."
Ayat ini tak menyebut angka. Sesudah ayat ini, persoalannya menjadi terang. Bukan lagi soal 70, 71, 700, atau 7.000. Masalahnya bukan jumlah istighfar, melainkan kekufuran yang mereka pertahankan.
Para mufasir memang berbeda dalam menjelaskan angka 70. Ibnu Katsir menyebut pendapat yang memahaminya sebagai bentuk penegasan tentang banyaknya istighfar. Dalam bahasa Arab, angka tertentu dapat digunakan sebagai mubalaghah, untuk menunjukkan jumlah yang sangat banyak, bukan batas matematis yang membuat 70 berbeda secara ajaib dari 71.
Ibnu 'Asyur juga memberi perhatian pada fungsi bahasa semacam itu. Dengan demikian, kita tidak perlu membayangkan seolah-olah ampunan Allah bekerja seperti kalkulator. Misalnya, 70 kali tidak berhasil, lalu pada angka 71 mungkin berhasil. Tidak.
Saya melihat kisah ini mempunyai lapisan lain. Dalam riwayat tentang Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh utama kaum munafik Madinah, Nabi bahkan tetap menunjukkan perhatian ketika ia meninggal. Putranya datang meminta agar Nabi mengurus dan menyalatkan jenazah ayahnya. Nabi memenuhi permintaan itu. Dalam riwayat yang dikutip Ibnu Katsir, beliau bahkan memberikan bajunya untuk kafan.
Sikap Nabi itu menunjukkan betapa luasnya rahmat beliau. Tapi ketika Allah kemudian menetapkan batasnya, Nabi pun tunduk. Rahmat tidak berarti melawan ketetapan Allah.
Dari sini saya kembali kepada kebiasaan saya sendiri. Saya membaca Astaghfirullah wa atubu ilaih 70 kali seusai tahajud. Nabi ﷺ beristighfar lebih dari 70 kali sehari, bahkan dalam riwayat lain 100 kali. Tapi juga bertanya, untuk apa sebenarnya saya mengulang bacaan itu?
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

10 hours ago
8













































