REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pelaku UMKM didorong tidak hanya mengandalkan marketplace untuk berjualan. Memanfaatkan kanal penjualan sendiri dinilai penting agar seller bisa membangun hubungan langsung dengan pelanggan sekaligus menjaga pembelian ulang.
Dorongan itu disampaikan KiriminAja dalam momentum Bulan UMKM Nasional 2026. CEO KiriminAja, Fariz GTJ mengatakan keberadaan di berbagai platform digital belum cukup jika tidak diikuti sistem yang mampu menghubungkan transaksi, pelanggan, hingga proses pengiriman. Ia mendorong pelaku usaha untuk mulai membenahi pengelolaan bisnis di tengah perubahan pola belanja konsumen.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen membuat transaksi kini tidak hanya terjadi di marketplace, tetapi juga melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, website, hingga komunitas online. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi seller untuk mengembangkan kanal penjualan mandiri.
"Marketplace tetap menjadi salah satu kanal penting bagi banyak pelaku usaha. Namun, seiring perilaku belanja pelanggan yang semakin beragam, seller juga membutuhkan kemampuan untuk membangun hubungan langsung dan mengelola penjualan dari kanal miliknya sendiri. KiriminAja hadir untuk membantu proses tersebut berjalan lebih mudah, mulai dari checkout, pengelolaan pelanggan, hingga pengiriman," kata Fariz dalam keterangannya, akhir pekan lalu.
Fariz menyampaikan, konsep kanal penjualan mandiri tersebut bukan berarti pelaku usaha harus meninggalkan marketplace. Kanal mandiri justru dapat menjadi pelengkap untuk memperluas pilihan penjualan sekaligus memberikan ruang bagi seller dalam membangun basis pelanggan yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Namun, semakin banyak kanal yang digunakan juga membuat pengelolaan pesanan dan pelanggan menjadi lebih rumit jika masih dilakukan secara manual.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, KiriminAja mengembangkan ekosistem yang menghubungkan proses transaksi, pengelolaan pelanggan, dan fulfillment dalam satu rangkaian. Salah satunya melalui Checkout Link, yang memungkinkan seller mengarahkan calon pelanggan dari WhatsApp, Instagram, TikTok, maupun kanal digital lainnya menuju proses pemesanan yang lebih terstruktur tanpa harus membangun website yang kompleks.
Dengan cara tersebut, Fariz menyebut, traffic yang selama ini hanya berhenti di media sosial atau percakapan dengan calon pelanggan dapat diarahkan menjadi transaksi.
"Hal ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada pencatatan pesanan secara manual yang semakin sulit dilakukan ketika volume transaksi mulai bertambah," ungkapnya.
Namun, transaksi pertama bukanlah akhir dari perjalanan pelanggan. Head of Product KiriminAja, Muhammad Army menambahkan pentingnya pengelolaan pelanggan setelah pembelian sebagai salah satu fondasi pertumbuhan bisnis. Melalui Repeat Order Management System (ROMS), seller dapat mengelola komunikasi dengan pelanggan lama secara lebih terstruktur, termasuk melakukan pengingat pembelian ulang maupun menyampaikan informasi promosi melalui WhatsApp.
"Pertumbuhan bisnis tidak hanya bergantung pada seberapa banyak pelanggan baru yang datang, tetapi juga bagaimana pelaku usaha menjaga pelanggan yang sudah pernah bertransaksi. Melalui ROMS, kami membantu seller menjalankan reminder, promosi, dan komunikasi pelanggan secara lebih terstruktur agar repeat order dapat dikelola tanpa menambah beban kerja manual," ujar Army.
Menurut Army, pelanggan yang sudah pernah bertransaksi menjadi peluang bagi seller untuk mendorong pembelian berikutnya. Karena itu, komunikasi dengan pelanggan lama perlu dikelola agar hubungan tidak berhenti pada satu transaksi. Pengalaman pelanggan juga tidak hanya ditentukan saat melakukan pembelian. Proses setelah checkout, terutama pengiriman, ikut memengaruhi kepuasan dan kepercayaan konsumen. Kemudahan melacak paket, pilihan pembayaran, hingga penanganan kendala pengiriman menjadi bagian yang perlu diperhatikan seller.
Untuk itu, KiriminAja juga mengintegrasikan kanal penjualan dengan layanan logistik. Seller dapat memilih layanan ekspedisi, mengatur pengiriman COD maupun non-COD, melacak paket, hingga mengelola retur dalam satu ekosistem.
"Pendekatan tersebut memungkinkan pelaku usaha menggunakan ekosistem KiriminAja secara bertahap. Seller yang baru mulai membangun kanal sendiri dapat memulai dari proses transaksi sederhana, kemudian mengembangkan pengelolaan pelanggan, pengiriman, hingga integrasi sistem seiring pertumbuhan bisnis," ujarnya.
Lebih jauh, KiriminAja berkomitmen untuk terus mendampingi seller, UMKM, reseller, dan brand lokal dalam membangun fondasi penjualan yang lebih terhubung. Melalui pengelolaan transaksi, pelanggan, dan pengiriman yang semakin terintegrasi, pelaku usaha diharapkan dapat memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengembangkan bisnis sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

5 days ago
22

















































