Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten tambang PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berencana mengajukan revisi kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun buku 2026. Direktur dan Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer INCO Budiawansyah mengatakan, alokasi produksi yang saat ini sebesar 30% dinilai belum cukup untuk mendukung target bisnis perseroan dalam jangka waktu setahun.
"Karena ada beberapa komitmen yang memang harus kita lakukan. Seperti komitmen kepada share holder dan juga komitmen kepada proyek hilirisasi kita," jelas Budiawansyah dalam media briefing di Jakarta, Jumat, (6/3/2026).
Meski demikian, dia menegaskan rencana produksi nickel matte hingga saat ini tidak terdampak oleh rencana revisi tersebut. Produksi nickel matte dari operasi Sorowako tetap berjalan sesuai dengan proyeksi karena RKAB untuk operasi Sorowako telah disetujui sepenuhnya.
Sementara itu, untuk proyek Pomalaa, perusahaan masih melakukan perhitungan secara matang agar selaras dengan proyeksi produksi dan rencana hilirisasi yang tengah dikembangkan. Perseroan menargetkan ekspansi proyek di Pomalaa dapat mencapai tahap mechanical completion pada Agustus 2026 sehingga fasilitas tersebut siap memasuki tahap produksi.
Diketahui, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melaporkan progres pembangunan yang telah mencapai 62%. Sejumlah infrastruktur utama telah rampung, termasuk North Access Road (NAR), Gedung Main Construction Office, serta fasilitas persemaian modern dengan kapasitas satu juta bibit pohon sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.
Pembangunan berbagai fasilitas pendukung juga terus dipercepat, seperti Living Area atau Operation Camp yang telah mencapai 41%, Workshop dan Office Area sebesar 57%. Selain itu, kolaborasi dengan mitra Huayou (KNI) dalam pembangunan Feed Preparation Plant dan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) juga telah melampaui progres 36%.
(miq/miq)
Addsource on Google

















































