REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Brand SSS Department jadi sorotan karena memproduksi sejumlah kaus dengan tulisan bernada seksis. Beberapa desain kaus memuat tulisan seperti "Bisa gak sih PDKT-nya tuh di skip aja. Langsung nge**** aja", serta "Cape banget pengen dinen**in".
Menanggapi hal ini, psikolog sekaligus Wakil Rektor I Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr Amanda Pasca Rini, menegaskan bahwa kaus seperti ini dapat memicu dampak psikologis bagi perempuan. Utamanya, jika kaus tersebut dikenakan oleh laki-laki di ruang publik.
Menurut Amanda, paparan terhadap tulisan bernada seksual dapat membentuk stigma yang merendahkan perempuan. Selain itu, kondisi tersebut berpotensi semakin menguatkan budaya patriarki yang menindas perempuan serta melanggengkan budaya misogini di masyarakat.
"Dampak yang ditimbulkan bisa sangat masif, apalagi bila di saksikan secara terbuka di ruang publik. Seperti stigma yang merendahkan perempuan, semakin menguatnya budaya patriarki yang menindas perempuan, melanggengkan budaya misogini di masyarakat," kata Dr Amanda saat dihubungi Republika, Jumat (4/9/2026).
Lantas mengapa masih ada brand yang merilis produk bernada seksis? Menurut Amanda, hal ini tidak lepas dari paham misogini yang begitu kuat tertanam di masyarakat. Misogini merupakan paham atau sikap yang dilandasi rasa benci dan prasangka ekstrem terhadap perempuan. Ketika pandangan tersebut masih dianggap lumrah, dampaknya dapat terlihat dalam berbagai bentuk kehidupan sosial.
Salah satu dampaknya adalah muncul standar ganda. Perempuan kerap dihakimi atas tindakan yang dianggap wajar, bahkan mendapat pujian, jika tindakan serupa dilakukan oleh laki-laki. Paham misogini juga membuat perempuan sering kalì dipandang sebelah mata dan diremehkan. Hal ini dapat berupa meragukan kecerdasan, ide, atau kesuksesan perempuan.
"Dampak lainnya dari misogini adalah meremehkan kemampuan perempuan. Meragukan kecerdasan, ide, atau kesuksesan perempuan, dan bahkan perempuan direndahkan lewat nada bicara atau mansplaining," kata Amanda.
Selain itu, misogini dapat mendorong objektifikasi terhadap perempuan. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai individu yang utuh, melainkan hanya sebagai objek pelengkap atau pemuas.
"Ini yang memprihatinkan sekali. Ketika perempuan dipandang bukan sebagai individu utuh, melainkan sekadar objek pelengkap atau pemuas," kata Amanda.

3 hours ago
3

















































