Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan munculnya sebuah penyakit misterius baru di Republik Demokratik Kongo (DRC), Rabu. Tak tanggung-tanggung, ada 53 orang yang tercatat tewas karena penyakit ini sejak Januari lalu.
Lalu bagaimana fakta-faktanya? Berikut rangkuman CNBC Indonesia dari berbagai sumber, Jumat (28/2/2025):
1. Awal Kemunculan
Pejabat kesehatan melaporkan kasus pertama penyakit misterius tersebut di Desa Boloko. Penyakit ini pertama kali menyerang tiga anak kecil yang meninggal pada 10 Januari hingga 13 Januari.
Melansir Live Science, kasus tambahan penyakit tersebut muncul di Boloko selama beberapa hari berikutnya. Setelah itu, kasus serupa terjadi di desa terdekat, Danda.
Hingga 27 Januari, Boloko telah mencatat 10 kasus, termasuk tujuh kematian. Danda melaporkan dua kasus dan satu kematian.
"Kemudian, pada 13 Februari, otoritas kesehatan melaporkan kelompok penyakit kedua di Bomate, desa lain di barat laut Kongo. Hingga 15 Februari, telah ada 431 kasus dan 53 kematian yang dilaporkan antara kedua wilayah tersebut," menurut laporan tersebut.
2. Gejala
Gejala utama yang terlihat pada kasus yang dilaporkan meliputi demam, menggigil, sakit kepala, nyeri tubuh, berkeringat, leher kaku, batuk, muntah, diare, dan kram perut. Beberapa juga mengalami mimisan, muntah darah, dan tinja berwarna hitam pekat.
Gejala-gejala ini juga dapat terlihat pada demam hemoragik, sekelompok penyakit yang disebabkan oleh beberapa keluarga virus yang ditemukan pada hewan, termasuk kelelawar dan hewan pengerat.
"Anak-anak tersebut dilaporkan memakan kelelawar sebelum mengalami gejala, yang dimulai dengan demam, sakit kepala, diare, kelelahan, dan kemudian berkembang menjadi gejala yang lebih parah, seperti muntah darah," Kantor Regional WHO untuk Afrika melaporkan.
3. Ilmuwan Belum Temukan Sebabnya
Sampel dari Bomate menunjukkan hasil negatif untuk virus umum penyebab demam berdarah, yaitu virus Ebola dan Marburg. Lima sampel klinis dari Boloko dan Danda juga dikirim untuk dianalisis, dan hasilnya juga negatif untuk Ebola dan Marburg.
Beberapa sampel dari Bomate menunjukkan hasil positif untuk penyakit parasit malaria, yang endemik di Afrika dan membunuh ratusan ribu orang di benua itu setiap tahun. Mengenai wabah misterius baru ini, kantor regional WHO mengatakan bahwa diagnosis yang sedang diselidiki meliputi malaria, demam berdarah virus, keracunan makanan atau air, demam tifoid, dan meningitis.
Dokter Serge Ngalebato, direktur medis di Rumah Sakit Bikoro, mengatakan situasi di Boloko dan Bomate berbeda. Kantor WHO Afrika juga mengatakan kasus di Boloko terjadi sangat cepat, dari terjadi infeksi sakit hingga kematian. Sementara kasus di Bomate memiliki angka infeksi lebih banyak.
"Kasus pertama menimbulkan banyak kematian dan terus kami selidiki karena merupakan situasi yang tak biasa. Lalu insiden kedua yang sedang kami hadapi saat ini, kami melihat banyak kasus malaria," kata Ngalebato.
4. Respon Pemerintah
Pemerintah mengatakan para pakar telah ditugaskan ke desa-desa yang terinfeksi sejak 14 Februari 2025. Mereka diminta membantu menyelidiki kasus ini, sehingga bisa menghambat penyebarannya.
Ngabelato mengatakan para pasien merespons pengobatan yang ditargetkan untuk gejala-gejala berbeda. Menurutnya hambatan muncul karena lokasi desa yang terpencil.
"Harus ada aksi cepat tanggap untuk menyelidiki kasus ini di laboratorium, meningkatkan kapasitas isolasi dan manajemen kasus, serta memperkuat pengawasan dan komunikasi risiko," kata Kantor WHO Afrika.
5. Kata Ilmuwan soal Penyebaran
Profesor Kedokteran Universitas East Anglia (UEA), Paul Hunter, mengatakan situasi ini mengkhawatirkan. Namun, ia menjelaskan bahwa kondisi semacam ini tidak jarang juga terjadi di dunia.
"Kami melihat klaster lain seperti itu di DRC pada bulan November/Desember lalu. Klaster terakhir itu ternyata malaria dan kemungkinan lebih parah akibat meningkatnya kekurangan gizi," katanya kepada Yorkshire Evening Post
"Sejauh ini saya tidak mengetahui banyak informasi tentang masalah saat ini selain bahwa klaster itu berada di wilayah barat laut negara itu, tampaknya ada dua klaster terpisah di daerah tersebut," tambahnya.
"Klaster sebelumnya dilaporkan pada tanggal 21 Januari 2025 dan berpusat di Desa Boloko di Distrik Kesehatan Bolomba. Klaster yang lebih baru berada di Desa Bomate di Zona Kesehatan Basankusu dan dilaporkan pada tanggal 9 Februari. Tidak ada hubungan yang diketahui antara kedua klaster ini. Sejauh ini hasil tes negatif untuk Ebola dan Marburg.
6. Hutan Kongo Jadi Pemicu?
Ada kekhawatiran tentang penyakit yang menyebar dari hewan ke manusia di area-area yang penduduknya bisa memakan hewan liar. Angka wabah yang terkait dengan hewan di Afrika telah melonjak lebih dari 60% dalam satu dekade terakhir, menurut laporan WHO pada 2022 lalu.
Pakar mengatakan kejadian terbaru di Kongo bisa jadi juga dipicu oleh wabah dari hewan. Kongo merupakan 'rumah' sekitar 60% hutan tropis terbesar di dunia.
"Semua virus ini merupakan virus yang mempunyai reservoir di hutan. Oleh karena itu, selama kita memiliki hutan ini, kita akan selalu menghadapi beberapa epidemi virus yang akan bermutasi," kata Gabriel Nsakala, profesor kesehatan masyarakat di Universitas Pedagogi Nasional Kongo, yang sebelumnya bekerja di Kementerian Kesehatan Kongo untuk program tanggap Ebola dan virus Covid-19.
7. Hambatan Kesehatan DRC
Negara ini saat ini dilanda konflik bersenjata di Provinsi Kivu Timur yang dipimpin oleh kelompok pemberontak M23, yang baru-baru ini merebut kota-kota utama Goma (27 Januari) dan Bukavu (14 Februari). Hal ini membuat DRC rentan terhadap penyakit.
Kekerasan di sana telah menghancurkan infrastruktur layanan kesehatan di wilayah tersebut dan telah menyebabkan pengungsian besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir. Rumah sakit kewalahan dan pekerja bantuan juga telah diserang.
(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Perang Saudara Makin Ngeri di Kongo, Warga Ramai Mengungsi
Next Article Warning! Asap Berbahaya Selimuti India Cs, Ini Biang Keroknya