Warga Depok, Wahyu Oktavian Iskandar bergabung menjadi tentara Rusia berdasarkan informasi FUSI.
REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Kedutaan Besar Rusia di Indonesia angkat bicara terkait kabar delapan warga negara Indonesia menjadi tantara bayaran Moskow.
Lewat keterangan yang diterima Republika, Kedubes Rusia menilai pernyataan yang baru-baru ini disebarluaskan oleh Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta—yang mengklaim bahwa setidaknya delapan warga negara Indonesia yang mengunjungi Rusia diduga bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia—merupakan kampanye disinformasi. "Kampanye didorong oleh propaganda," tulis Kedubes Rusia, Rabu.
Menurut kedubes Rusia, salinan e-visa dan kartu migrasi yang diterbitkan untuk tujuan wisata, yang dipublikasikan oleh Kedutaan Besar Ukraina tersebut, sama sekali bukan merupakan bukti adanya keterlibatan dalam dinas militer.
Di sisi lain, kata Kedubes, Ukraina sendiri secara aktif merekrut tentara bayaran asing ke dalam jajaran formasi militernya. Hal ini disebabkan oleh kerugian besar yang mereka alami di medan perang, dengan lebih dari 700 ribu orang tewas dan 1 juta orang terluka.
Kementerian Pertahanan Ukraina telah menyatakan bahwa, dalam jangka panjang, angkatan daratnya harus terdiri dari 30–50% warga asing.
Kiev disebut Rusia telah menggunakan metode yang menyesatkan serta memanfaatkan misi diplomatik dan organisasi afiliasi di luar negeri untuk merekrut mereka.
"Saat ini, puluhan ribu warga negara dari berbagai negara lain sedang bertugas di angkatan darat Ukraina. Ribuan orang telah tewas, termasuk di antaranya warga negara Indonesia," ujar Kedubes Rusia.

2 weeks ago
32
















































