Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) menegaskan pentingnya edukasi dan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi fraud. Komitmen ini disampaikan dalam acara Executive Policy Forum Kolaboratif Penanganan Fraud dan Scam Digital yang diselenggarakan oleh Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI).
Diketahui tren fraud digital yang meningkat mendorong perlunya penguatan kewaspadaan dan literasi masyarakat. Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK mencatat lebih dari 432 ribu laporan penipuan digital sepanjang November 2024 hingga Januari 2026, dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 9,1 triliun.
Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, menyampaikan fraud digital merupakan salah satu ancaman bagi ketahanan siber Indonesia di tengah perkembangan digital yang masif.
"Perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memudahkan manusia, namun di sisi lain teknologi ini juga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan. Oleh karena itu, kolaborasi antara regulator dan sektor swasta menjadi kunci dalam memperkuat keamanan siber sekaligus meningkatkan edukasi pengguna," ungkap Firlie dikutip Jumat (17/4/2026).
Dalam sesi panel bertajuk "Penguatan Koordinasi Nasional dalam Penanganan Fraud dan Scam Digital", AdaKami turut berpartisipasi bersama IASC OJK, BSSN, dan AFPI untuk membahas penguatan langkah preventif. Pembahasan meliputi langkah-langkah peningkatan kewaspadaan pengguna serta penyelarasan pendekatan dalam menangani dinamika kejahatan siber.
Ketua Sekretariat Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (IASC) OJK, Hudiyanto, menegaskan, fraud dan scam digital saat ini telah berkembang menjadi tantangan yang bersifat struktural, sistematik, dan bahkan menjadi semacam "industri".
"Oleh karena itu, diperlukan tindakan yang kolaboratif dalam menanganinya. OJK bersama Satgas PASTI dan seluruh pelaku usaha dan asosiasi terkait terus memperkuat pelindungan konsumen dan masyarakat dalam rangka penanganan fraud dan scam digital," kata Hudiyanto.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menambahkan, selama periode Januari sampai dengan 15 November 2025 terdapat hampir sekitar 5,2 miliar anomali traffic, dengan 93,78% di antaranya berupa malware yang berpotensi menjadi ransomware.
"Temuan ini menggambarkan bagaimana potensi-potensi serangan siber di Indonesia sangat besar. Melalui Perpres No. 47 Tahun 2023 tentang Strategi Keamanan Siber Nasional dan Manajemen Krisis Siber, kami menggandeng para penyelenggara negara, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas, untuk mewujudkan keamanan dan pertahanan siber, melindungi ekosistem perekonomian digital sebagai tulang punggung ekonomi nasional, serta meningkatkan kekuatan dan kapabilitas keamanan siber nasional," ujar Slamet.
Sementara itu, Direktur Eksekutif AFPI, Yasmine Meylia Sembiring, juga menekankan pentingnya peran industri.
"Sebagai asosiasi Pindar, kami menempatkan pelindungan konsumen sebagai prioritas utama, dan mendorong pergeseran dari penanganan kasus ke pencegahan yang lebih proaktif dan terintegrasi. Melalui portal pengaduan AFPI, kami juga menerima laporan terkait platform ilegal, yang selanjutnya kami koordinasikan dengan Satgas PASTI untuk ditindaklanjuti. Ke depan, AFPI akan terus berperan aktif menjaga ekosistem digital yang sehat dan terpercaya," terang dia.
Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy, menyampaikan, fraud dan scam digital merupakan isu industri dan tanggung jawab bersama. Adakami berkomitmen memperkuat pelindungan konsumen melalui pengembangan sistem keamanan berbasis teknologi dan edukasi berkelanjutan, agar pengguna terlindungi dari berbagai modus sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap layanan digital.
"Kami juga menyadari bahwa upaya ini tidak dapat dilakukan sendiri. Karena itu, AdaKami terus bersinergi dengan regulator, asosiasi, dan mitra strategis untuk memperkuat ekosistem digital yang lebih aman, termasuk melalui partisipasi dalam forum ini," ujar Karissa.
Sebagai informasi forum ini merupakan salah satu langkah AdaKami dalam memperkuat kolaborasi pencegahan fraud digital. Dalam operasionalnya, AdaKami terus memperkuat sistem keamanan untuk melindungi platform dari potensi serangan siber melalui pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan big data, termasuk pemantauan risiko secara berkelanjutan serta deteksi aktivitas mencurigakan.
Untuk melindungi akun pengguna, AdaKami menerapkan proses electronic Know Your Customer (e-KYC) dengan fitur liveness detection sebagai bagian dari verifikasi identitas, selain berbagai fitur keamanan lain sesuai standar industri. Selain itu, AdaKami secara konsisten mendorong peningkatan literasi masyarakat melalui kampanye #SelaluWaspada, termasuk dalam menjaga data pribadi, mengenali ciri penipuan, pinjol ilegal, serta melakukan verifikasi informasi hanya melalui kanal resmi dan sumber terpercaya.
"Melalui upaya ini, AdaKami juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam bertransaksi digital serta menghindari bantuan dari pihak yang tidak dikenal guna menghindari potensi penipuan," pungkasnya.
(rah/rah)
Addsource on Google


















































