REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penyelenggara layanan ibadah haji memastikan kesiapan calon jamaah dilakukan secara matang, terutama untuk menghadapi cuaca ekstrem di Arab Saudi yang diperkirakan mencapai 39–40 derajat Celsius pada musim haji tahun ini. Berbagai langkah antisipasi dilakukan agar jamaah terhindar dari risiko heat stroke selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
"Itu (heat stroke) memang menjadi perhatian kita ya dan akan kita bekali jamaah bagaimana menghadapi cuaca ekstrem di sana," ujar General Manager Marketing Sahid Tour, Teguh Budi Santosa, saat konferensi pers di Hotel Sahid Raya Yogyakarta, Rabu (29/4/2026).
Heat stroke atau serangan panas ini sendiri diketahui bentuk hipertermia atau penyakit yang berhubungan dengan panas. Heat stroke ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh yang tidak normal, serta gejala fisik yang menyertainya, termasuk adanya perubahan fungsi sistem saraf.
Teguh memastikan berbagai bekal untuk jamaah menghadapi cuaca panas ini juga telah diberikan. Termasuk akan diberikan pembekalan saat manasik haji khusus 2026 yang akan digelar beberapa hari mendatang.
"Ini tanggung jawab kita memang (menjaga kesehatan jamaah). Sebelum kita melakukan manasik ini, kita telah melakukan beberapa kali pertemuan pakai zoom meeting terkait dengan isu ini (heat stroke), apa yang dipersiapkan, apa yang akan terjadi di Arab Saudi nanti," ungkap Teguh.
Teguh mengingatkan salah satu yang harus dilakukan jamaah untuk menjaga kondisi fisik yaitu menjaga asupan air atau minum, untuk menghindari dehidrasi.
"Saya sendiri di sana juga dipaksa harus minum begitu ya. Diperkirakan memang ada kenaikan suhu di Arab Saudi pada saat nanti jamaah haji di sana," kata dia.
Berangkatkan ratusan jamaah
Lebih lanjut, Teguh mengungkapkan untuk tahun ini jumlah jamaah haji khusus yang diberangkatkan oleh Sahid Tour yaitu 492 jamaah. Kemudian petugas haji sebanyak 24 orang yang berangkat dari Indonesia.
"Serta tim medis enam orang yang siap mendampingi jemaah selama proses ibadah di Tanah Suci," kata dia.
Jamaah haji yang diberangkatkan tahun ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. Jamaah termuda tercatat berusia 13 tahun, sementara yang tertua berusia 81 tahun.
"Ada yang dari Bengkulu, Balikpapan, Palembang, dan berbagai daerah di Indonesia. Jamaah yang paling muda berusia 13 tahun dan paling tua 81 tahun,” ujar Teguh.
Selain kesiapan kesehatan, penyelenggara juga memastikan jamaah tidak terbebani biaya tambahan di tengah kenaikan harga energi global. Untuk mendukung kelancaran ibadah, ratusan jamaah tersebut akan didampingi oleh 24 petugas dari Indonesia, termasuk enam tenaga medis yang terdiri dari dokter laki-laki dan perempuan. Setibanya di Arab Saudi, operasional juga akan diperkuat oleh sekitar 30 tenaga lokal dari kalangan mahasiswa Indonesia.
Manasik Haji untuk Kesiapan Jamaah
Ketua Pelaksana Manasik Haji Sahid Tour, Miranti Nurrisa Ahsana, mengatakan untuk memantapkan kesiapan jamaah haji, akan dilaksanakan manasik haji selama empat hari tiga malam.
"Tujuan utama penyelenggaraan manasik ini adalah untuk memberikan tuntunan pembelajaran dan praktik ibadah haji yang lebih intensif, sejalan dengan fokus Sahid Tour dalam menghadirkan kesempatan ibadah haji bagi para jemaah,” ungkap Miranti.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan manasik diisi dengan berbagai sesi pembelajaran komprehensif, termasuk praktik langsung pelaksanaan ibadah haji. Selaras dengan tema yang diangkat pada Manasik Haji kali ini, 'Niat Ibadah, Perjalanan Berkah, Menuju Mabrur', setiap sesi dirancang untuk mengupas secara mendalam berbagai aspek.
"Seperti fikih ibadah haji, serta persiapan fisik dan mental sehingga jamaah dapat memahami dan menjalankan ibadah dengan lebih baik dan Insya Allah sesuai aqidah," ungkapnya.

4 hours ago
3

















































