Antrean Cuci Darah Membludak, RSUD Prambanan Tambah Layanan

5 hours ago 3

Antrean Cuci Darah Membludak, RSUD Prambanan Tambah Layanan Ilustrasi. - Antarafoto

Harianjogja.com, SLEMAN—Antrean layanan hemodialisis di RSUD Prambanan kian mengular hingga sekitar 80 pasien, mencerminkan meningkatnya kasus gagal ginjal di wilayah Sleman dan sekitarnya.

Direktur RSUD Prambanan, Ratih Susila, menyebut lonjakan ini tidak hanya terjadi di satu rumah sakit, melainkan hampir di seluruh fasilitas kesehatan.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Antrean bisa mencapai sekitar 80 pasien untuk layanan hemodialisis,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Salah satu penyebab utama antrean panjang adalah keterbatasan mesin hemodialisis, sehingga belum semua pasien dapat terlayani optimal.

Untuk mengatasi hal tersebut, RSUD Prambanan terus meningkatkan kapasitas layanan, termasuk pembangunan dua gedung rawat inap tiga lantai berstandar KRIS dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, perbaikan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dilakukan pada 2025, dan pembangunan ruang operasi baru direncanakan pada 2027 guna mengakomodasi peningkatan pasien dan tenaga medis.

Inovasi Jemput Bola dan Skrining Penyakit

Tak hanya infrastruktur, inovasi layanan juga diperkuat melalui program MCU “Jempol” (Jemput Bola) dengan rontgen mobile untuk deteksi dini penyakit di masyarakat.

Program ini mencakup skrining tuberkulosis di 25 puskesmas, sebagai upaya menekan beban layanan rumah sakit dari kasus yang bisa dicegah lebih awal.

Tren Diabetes dan Risiko Usia Muda

Lonjakan pasien hemodialisis berkaitan erat dengan meningkatnya penyakit kronik seperti Diabetes Melitus dan hipertensi.

DIY bahkan disebut memiliki prevalensi diabetes tertinggi di Indonesia, yang berdampak pada tingginya risiko komplikasi hingga gagal ginjal.

RSUD Prambanan juga mencatat tren mengkhawatirkan, di mana risiko penyakit ginjal mulai muncul pada usia lebih muda akibat pola makan tinggi gula dan rendahnya konsumsi air putih.

Untuk mengantisipasi lonjakan pasien, RSUD Prambanan menambah dokter spesialis penyakit dalam menjadi empat orang serta membuka layanan poli rawat jalan hingga sore hari.

Seluruh layanan tersebut dapat diakses melalui program BPJS Kesehatan, sehingga diharapkan mampu menjangkau lebih banyak pasien.

Kasus Diabetes Sleman Tembus 17 Ribu

Sementara itu, Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, mencatat jumlah penderita diabetes melitus di Sleman mencapai 17.259 orang sepanjang 2025.

Ia menegaskan bahwa diabetes tidak disebabkan satu faktor, melainkan kombinasi genetik, pola makan, gaya hidup, dan rendahnya aktivitas fisik.

Pemerintah dan tenaga kesehatan pun mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin menjalani pola hidup sehat—mulai dari menjaga asupan makanan, rutin berolahraga, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan berkala—guna menekan laju penyakit kronik yang berujung pada gagal ginjal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|