Jakarta, CNBC Indonesia - Tensi panas di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mengintensifkan pengerahan kekuatan militer besar-besaran di lepas pantai Iran. Langkah ini memicu kekhawatiran global bahwa Washington tengah mempersiapkan serangan militer langsung terhadap Teheran dalam waktu dekat.
Mengutip laporan Al Jazeera, Kamis (29/1/2026) kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln telah tiba di Laut Arab.
Pengerahan aset strategis ini dilakukan hanya berselang beberapa bulan setelah AS meluncurkan serangan udara dahsyat ke tiga situs nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.
Armada Raksasa Siaga Tempur
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa USS Abraham Lincoln (CVN-72) dikirim untuk "mempromosikan keamanan dan stabilitas regional." Kapal raksasa sepanjang 333 meter ini membawa Carrier Air Wing 9 yang terdiri dari 65 pesawat jet tempur, termasuk F/A-18E Super Hornet yang dikenal mematikan dalam serangan presisi.
Tidak sendirian, USS Abraham Lincoln dikawal oleh kapal-kapal perusak rudal kendali kelas Arleigh Burke, yakni USS Frank E Petersen Jr, USS Spruance, dan USS Michael Murphy. Ketiganya memiliki kemampuan meluncurkan rudal Tomahawk untuk serangan darat serta sistem pertahanan rudal balistik tingkat tinggi.
Selain kekuatan laut, Angkatan Udara AS (AFCENT) juga mengumumkan latihan militer "kesiapan multi-hari" di seluruh wilayah tanggung jawabnya di Timur Tengah.
Ancaman Trump: "Lebih Dahsyat dari Serangan Juni"
Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal kuat terkait potensi penggunaan kekuatan militer ini. Berbicara di atas pesawat Air Force One, Trump menyebut armada masif tersebut dikerahkan "jaga-jaga" jika Iran nekat mengeksekusi para demonstran pasca-gelombang protes besar yang melanda negara tersebut sejak Desember 2025.
Trump memperingatkan bahwa jika eksekusi dilakukan, serangan AS kali ini akan membuat serangan pada Juni 2025 lalu-yang menghancurkan situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan-terlihat seperti "kacang" (tidak ada apa-apanya).
Sebagai informasi, pada serangan "Operation Midnight Hammer" Juni 2025, AS mengerahkan bom bunker-buster GBU-57 seberat 13.000 kg dari pesawat siluman B-2 untuk menembus fasilitas bawah tanah Iran.
Gertakan atau Invasi?
Analis kebijakan luar negeri dari European Council on Foreign Relations, Ellie Geranmayeh, menilai Trump mungkin menggunakan isu hak asasi manusia dan perlindungan warga sipil untuk membenarkan serangan, atau bahkan upaya penggantian rezim. Namun, langkah ini berisiko tinggi.
"Jika AS meluncurkan serangan signifikan dengan tujuan penggantian rezim, Teheran kemungkinan akan langsung meningkatkan 'biaya' bagi Trump di tahun pemilu dengan menargetkan tentara AS di seluruh Timur Tengah," ujar Geranmayeh.
Di sisi lain, Ali Vaez dari International Crisis Group meragukan serangan akan terjadi dalam waktu dekat karena protes domestik di Iran sudah mulai mereda. Ia menilai biaya intervensi militer akan sangat mahal dan dampaknya justru bisa membuat rezim Iran semakin represif terhadap 92 juta rakyatnya.
Hingga saat ini, dunia terus memantau pergerakan armada AS di Teluk. Dengan rekam jejak Trump yang baru saja memerintahkan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari lalu, spekulasi mengenai tindakan militer mendadak terhadap Iran tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan geopolitik global.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

















































