ART Indonesia-AS Resmi Berlaku, 1.819 Produk Tarif 0 Persen

4 hours ago 1

ART Indonesia-AS Resmi Berlaku, 1.819 Produk Tarif 0 Persen Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Indonesia dan Amerika Serikat (AS) secara resmi telah menyepakati kerjasama perdagangan dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART). Sejumlah produk Indonesia tarifnya diturunkan sampai 0%, begitu juga untuk produk dari AS.

Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo menilai, melalui perjanjian ini Indonesia punya peluang lebih besar untuk menembus pasar AS. Namun, ia mengingatkan bahwa konsep resiprokal berarti hubungan perdagangan berlangsung dua arah.

Artinya, kata dia, saat Indonesia mendapat akses lebih luas ke pasar AS, produk-produk AS juga memperoleh kesempatan yang sama untuk masuk ke pasar domestik. Bahkan ada beberapa komoditas yang harus Indonesia impor dari AS, seperti gandum dan kedelai, termasuk kapas untuk kebutuhan industri tekstil.

"Kita punya peluang untuk ekspor ini positif, walaupun kita juga ada beban untuk mengimpor produk-produk AS," ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Dia mengatakan dampak ART pada neraca perdagangan Indonesia masih perlu dicermati lebih lanjut, dengan melihat rincian setiap komoditas yang disepakati.

Menurutnya sebelum perjanjian ini berlaku Indonesia sudah mengimpor sejumlah komoditas dalam jumlah besar seperti gandum, kedelai dan produk lainnya. Di sisi lain Indonesia juga mengekspor berbagai produk ke AS salah satunya tekstil dan produk tekstil (TPT).

"Nanti kalau ke depan ini, apakah kita tetap surplus atau tidak, harus kita cermati lagi produk- produknya," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, AS cukup agresif dalam negosiasi dagang. Ia berpandangan hal ini tidak lepas dari kondisi defisit neraca perdagangan cukup dalam yang dialami AS, khususnya dengan negara China dan mitra dagang lain seperti Indonesia.

Sementara itu, menanggapi tarif dagang Presiden Donald Trump yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA) AS, menurutnya setiap perjanjian dagang biasanya disertai mekanisme perubahan atau adendum mengikuti perkembangan baru. Sehingga, pemerintah Indonesia memiliki ruang untuk memperbaiki atau meninjau kembali poin-poin yang dianggap memberatkan.

Dia mencontohkan misalnya impor komoditas yang melebihi kebutuhan dalam negeri bisa dinegosiasikan ulang. Kemudian poin-poin yang dianggap merugikan Indonesia baik dalam jangka pendek dan panjang, sebab pemerintah AS juga sedikit melemah setelah dibatalkan oleh regulasi di sana.

"[negosiasi] kuota itu kalau dianggap berlebihan, misalnya butuh 100 diminta impor 110, ini kan lebih," jelasnya.

Melansir dari Sekretariat Kabinet, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, dalam dokumen ART terdapat 1.819 pos tarif produk yang memperoleh tarif 0%.

"Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri. Antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang yang tarifnya adalah nol persen," ujarnya.

Sementara untuk produk tekstil dan apparel, Menko Airlangga menyebut bahwa AS juga memberikan tarif 0% dengan mekanisme tariff rate quota (TRQ). "Tentunya ini memberikan manfaat bagi empat juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat indonesia," tuturnya.

Sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik, Indonesia juga berkomitmen memberikan fasilitas tarif 0% bagi sejumlah produk utama asal AS, khususnya komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai. Menurut Airlangga, langkah ini memastikan masyarakat tidak terbebani biaya tambahan untuk produk berbahan baku impor tersebut.

"Masyarakat indonesia membayar 0% untuk barang yang diproduksi dari soyabean ataupun wheat dalam hal ini, noodle ataupun dalam bentuk tahu dan tempe. Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari AS." (**) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|