Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Dunia melihat adanya potensi kelebihan investasi karena tidak berimbangnya investasi untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) seperti data center dengan implementasi teknologi yang masih rendah di kawasan Asia Pasifik.
Berbeda dengan Bank Dunia, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengatakan bahwa semakin banyak investasi dan pembangunan pusat data di Indonesia akan semakin baik dan berdampak positif kepada ekonomi negara.
"Karena data center kan yang membayar itu aplikasinya. Jadi makin banyak kapasitas makin bagus," ucapnya kepada awak media di kantor Kemenko Ekonomi, Jakarta pada Kamis (8/4/2026).
Dalam pengembangan pusat data, Airlangga mengatakan Indonesia sangat kompetitif karena memiliki sumber energi yang luas dan pasar yang besar. Sehingga dapat menarik investasi pusat data serta ekosistem AI yang lebih masif.
"Indonesia sangat kompetitif. Karena dari segi land cost kita unggul, kemudian dari segi power tersedia, kemudian dari segi air juga tersedia. Jadi dibandingkan dengan berbagai negara lain Indonesia mempunyai keunggulan. Tapi tambah lagi usernya kan 287 juta penduduk," ucapnya.
Berdasarkan laporan Bank Dunia, investasi swasta global dalam AI generatif telah melonjak dari hampir nol pada 2019 menjadi US$34 miliar pada 2024.
Malaysia memimpin dengan sekitar 700 megawatt (MW) data center yang beroperasi dan proyek yang melebihi 3.000 MW; Indonesia dan Thailand juga mengalami investasi data center yang signifikan.
Ekspor terkait AI telah berkembang pesat di beberapa ekonomi EAP dalam beberapa tahun terakhir. Barang setengah jadi, terutama semikonduktor, tetap menjadi tulang punggung perdagangan terkait AI di seluruh wilayah, meskipun ekspor peralatan seperti perangkat keras pusat data telah tumbuh secara signifikan.
Namun walau investasi meningkat pesat, hanya sekitar 13% hingga 17% anak perusahaan multinasional di kawasan ini yang menggunakan AI, dibandingkan dengan 37% di Amerika Serikat. Adopsi AI di EAP juga terpusat di perusahaan multinasional dengan perusahaan domestik yang jauh tertinggal.
Pada tahun 2025, Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi mengungkapkan Indonesia mengalami pertumbuhan pesat pada pengguna jaringan internet hingga mencapai 353,8 juta dimana jumlah ini bahkan melampaui populasi nasional. Oleh karena itu Data Center menjadi sebuah keharusan bagi Indonesia dan diperkirakan industri data center akan tumbuh mencapai 14% per-tahun 2028.
Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital mengatakan tren adopsi AI juga menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya kapasitas Data Center.
"Dan untuk mendukung perkembangan ini diperkirakan membutuhkan kapasitas yang besar untuk mendukung teknologi AI yang awalnya sekitar 202 MW pada 2024 menjadi 743 MW dalam beberapa tahun ke depan" jelasnya.
Lonjakan ini merupakan bukti nyata, serta menandai transformasi Indonesia menuju ekonomi digital yang semakin canggih di masa depan.
Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin pasar pusat data regional. Keberadaan pusat data akan memperkuat daya saing nasional, mempercepat transformasi digital lintas sektor, serta membuka peluang investasi berkelanjutan di industri teknologi.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

















































