Krisis 2026 Merembet ke Mana-Mana, HP Murah Terancam Punah

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Era smartphone murah yang selama ini mendorong akses internet diprediksi ke masyarakat massal mulai berakhir. Pengiriman smartphone dunia diperkirakan turun 13% sepanjang 2026, menjadi penurunan tahunan terbesar yang pernah tercatat.

Penurunan paling tajam diproyeksikan terjadi di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Di dua wilayah tersebut, pengiriman smartphone diperkirakan anjlok lebih dari 20%.

Bukan pelemahan ekonomi atau pasar jenuh yang menjadi penyebab utama, melainkan lonjakan kebutuhan industri kecerdasan buatan (AI) terhadap chip memori yang menekan pasokan smartphone global.

Laporan International Data Corporation (IDC) menyebut kebutuhan AI terhadap DRAM kini melonjak tajam, baik untuk pelatihan model maupun operasional layanan AI di pusat data.

Akibatnya, pasokan memori yang sebelumnya banyak digunakan untuk smartphone dan laptop kini dialihkan ke pusat data untuk mendukung large language model (LLM).

"Guncangan ini bukan sementara, melainkan perubahan struktural di seluruh pasar," tulis IDC dalam laporannya, dikutip dari BreakChange, Senin (25/5/2026).

Secara bisnis, produsen chip juga dinilai lebih diuntungkan menjual memori ke perusahaan AI. Pasalnya, sektor AI berani membayar lebih mahal dibanding produsen smartphone yang mengandalkan pasar sensitif terhadap harga.

Di sisi lain, kapasitas produksi DRAM juga sulit ditambah dalam waktu cepat. Untuk membangun satu pabrik DRAM tercanggih dibutuhkan investasi sekitar US$15 miliar hingga US$20 miliar, belum termasuk biaya peralatan.

Besarnya modal dan risiko industri yang tinggi membuat banyak perusahaan teknologi enggan masuk ke bisnis tersebut.

Sejarah industri memori juga menunjukkan persaingan yang berat. Intel keluar dari bisnis DRAM sejak 1980-an, disusul Texas Instruments dan IBM pada dekade berikutnya. Qimonda dari Jerman tumbang pada 2009, sementara Elpida Jepang bangkrut pada 2012.

Selain terbatas dari sisi investasi, pengembangan DRAM juga menghadapi tantangan teknis. Teknologi ini dinilai lebih sulit ditingkatkan dibanding chip lain karena terbentur batas fisik komponen penyimpan daya.

Kondisi ini diperkirakan akan berdampak langsung ke pasar smartphone murah, khususnya di negara berkembang yang selama ini menjadi motor pertumbuhan pengguna internet baru.

Bagi pengembang aplikasi, perubahan tersebut juga memaksa penyesuaian strategi. Segmen ponsel murah yang sebelumnya menjadi fokus utama mobile-first diperkirakan makin menyusut.

Selama industri AI masih mampu membayar lebih tinggi untuk chip memori, harga DRAM diperkirakan tetap mahal. Artinya, era smartphone murah yang sebelumnya membuka akses digital bagi miliaran orang di seluruh dunia kini berpotensi makin sulit dijangkau.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|