Bukti Nyata China Sudah Tak Butuh Amerika, Trump Akhirnya Kena Batunya

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Sanksi ekspor chip canggih yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap China, sejak era pemerintahan Joe Biden hingga Donald Trump, nyatanya justru membuat negara kekuasaan Xi Jinping lebih maju.

Sejak sanksi dijatuhkan, China fokus menggenjot industri chip AI canggih dalam negeri demi melepas ketergantungan teknologi terhadap AS. Hasilnya berbuah manis.

Di saat AS menyadari pasar China terlalu berharga untuk disia-siakan, justru giliran Beijing jual mahal. Pemerintahan AS sudah membuka keran ekspor untuk chip H200 buatan Nvidia ke China, yang notabene merupakan chip tercanggih kedua buatan perusahaan.

Namun, hingga kini China belum secara formal mengizinkan chip H200 masuk ke negaranya. Hal ini membuktikan China sudah tak lagi membutuhkan teknologi penopang dari AS.

Huawei menjadi salah satu raksasa China yang kecipratan berkah untuk menggarap pasar domestik. Laporan terbaru menyebut Huawei berencana untuk merancang chip-chip bertenaga tinggi (high-end) pada 2031 mendatang.

Adapun chip high-end yang dimaksud akan memiliki kepadatan transistor setara dengan proses 1,4 nanometer. Ambisi ini diungkap saat sanksi AS masih mempersulit China untuk membangun chip tercanggih di dunia.

Proyeksi terbaru Huawei diungkap pada Senin (25/5) waktu setempat. Klaim ini langsung menjadi sorotan dari berbagai pihak.

Huawei menyebut prinsip Hukum Skala Tau, yakni sebuah prinsip baru untuk meningkatkan chip karena industri tidak lagi dapat hanya mengandalkan pembuatan transistor yang lebih kecil.

He Tingbo, presiden bisnis semikonduktor Huawei dan direktur Komite Ilmuwan, memperkenalkan konsep baru tersebut dalam pidato utama berjudul "Jalur Semikonduktor Baru dalam Praktik" pada Simposium Internasional IEEE tentang Sirkuit dan Sistem (ISCAS) 2026 di Shanghai, dikutip dari Reuters, Senin (25/5/2026).

Meskipun Huawei belum membeberkan data performa mandiri, tetapi target ini tetap mencuri perhatian. Pasalnya, transistor dengan kepadatan setara proses 1,4 nanometer diperkirakan akan mendekati batas global untuk pembuatan chip canggih sekitar akhir dekade ini.

China selama ini dipandang tak bisa mencapai level tersebut melalui kapasitas manufaktur konvensionalnya. Pasalnya, Washington turut membatasi akses China terbadap alat litografi canggih dan teknologi-teknologi kunci lainnya dalam mengembangkan semikonduktor.

Adapun Hukum Skala Tau, kata Huawei, berfokus pada pemangkasan waktu yang dibutuhkan sinyal dan data untuk bergerak melalui chip dan sistem komputasi. Jika berhasil, hal ini dapat menawarkan perusahaan cara untuk meningkatkan kinerja dan kepadatan chip meskipun ada pembatasan akses China ke peralatan semikonduktor tercanggih.

Huawei mengatakan chip Kirin terbarunya akan diluncurkan pada pertengahan 2026 ini dan menjadi yang pertama menggunakan arsitektur LogicFolding. Perusahaan mengklaim arsitektur ini akan mempersingkat kabel di dalam chip dan secara signifikan meningkatkan kinerja.

Huawei sudah merancang dan memproduksi massal sekitar 381 chip dalam 6 tahun terakhir berbasis dengan Hukum Skala Tau untuk penggunaan industri, termasuk smartphone dan komputasi AI.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|