REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria menegaskan ambisi Indonesia untuk mempercepat kemandirian teknologi antariksa nasional. Arif menekankan percepatan pengembangan antariksa tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur fisik.
Hal tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke Kawasan Sains M Ibnoe Subroto, Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (31/12/2025), yang difokuskan pada kesiapan fasilitas riset keantariksaan, persiapan peluncuran satelit A4, serta pengembangan bandar antariksa. Hal itu sebagai fondasi strategis kedaulatan teknologi bangsa.
Menurut dia, Kejelasan tata kelola, pembagian peran, dan koordinasi antarunit menjadi faktor krusial agar program strategis berjalan efektif dan efisien. "Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi," kata Arif.
Dia menjelaskan, pembahasan kelembagaan masih terus berlangsung bersama Kementerian PAN-RB dan kementerian/lembaga terkait. Namun demikian, Arif menegaskan, efektivitas fungsi jauh lebih penting dibandingkan sekadar bentuk organisasi.
"Yang utama adalah bagaimana fungsi keantariksaan berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan," ujar Arif.
Mantan rektor IPB University tersebut menyampaikan, keunggulan di bidang keantariksaan hanya dapat dicapai melalui kerja keras dan komitmen penuh. Arif mendorong para periset untuk meningkatkan intensitas dan kualitas riset, termasuk memanfaatkan peluang hibah riset luar negeri yang saat ini semakin terbuka.
sumber : Antara

1 month ago
24
















































