Tim penyelamat Israel membawa jenazah di lokasi bangunan tempat tinggal yang terkena serangan rudal Iran di Haifa, Israel, 06 April 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Di jalan-jalan Teheran yang sunyi, di mana keheningan terpecah oleh deru motor yang dikendarai pembunuh tak dikenal, bab-bab dari salah satu perang bayangan paling rumit di era modern dimulai pada awal milenium baru.
Ini bukan sekadar pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir, melainkan awal dari konflik eksistensial yang melintasi batas negara.
Di antara ambisi nuklir Iran yang tak tergoyahkan dan doktrin Israel yang menolak melepaskan monopoli kekuatan, film dokumenter "Iran dan Israel: Permusuhan yang Memanas"—yang ditayangkan Aljazeera pada Jumat (17/4/2026) malam—mengungkap rahasia konfrontasi sengit yang membuat dunia menahan napas.
Film ini mengandalkan kesaksian jurnalis dan pejabat Israel, termasuk mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Ehud Barak, mantan Utusan AS untuk Urusan Iran Robert Malley, dan mantan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, serta mantan pemimpin Korps Garda Revolusi Iran dan lainnya.
Doktrin pencegahan dan efek domino bom
Israel mendasarkan tindakannya pada tradisi lama yang mengharuskan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh sentral di kalangan musuhnya.
Prinsip ini bertujuan untuk mencegah efek "domino" nuklir, karena Tel Aviv khawatir bahwa kepemilikan bom oleh Teheran akan memicu perlombaan senjata yang melibatkan Arab Saudi, Mesir, dan Turki.

5 hours ago
2















































