Jumali Senin, 11 Mei 2026 11:27 WIB

Seorang pria melihat Tesla Model S di showroom di Beijing, Tiongkok 29 Januari 2014./Reuters
Harianjogja.com, JOGJA— Industri kendaraan listrik China tengah diguncang kontroversi setelah muncul isu praktik “battery lock”, yang diduga melibatkan sejumlah pabrikan besar dan memicu perdebatan luas di kalangan konsumen serta regulator.
Sina melaporkan, Isu ini pertama kali mencuat dari laporan daring yang menyebut delapan produsen kendaraan listrik dipanggil regulator untuk dimintai keterangan. Namun, kabar tersebut kemudian dibantah oleh para perusahaan yang namanya disebut, yang menilai informasi itu tidak benar dan bahkan menyebutnya sebagai hasil manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Salah satu produsen terbesar, BYD, secara tegas membantah keterlibatan dalam investigasi tersebut pada 9 Mei 2026. Perusahaan itu juga menyatakan tengah mengumpulkan bukti untuk menempuh jalur hukum terhadap penyebar informasi yang dianggap menyesatkan.
Sementara itu, Tesla menegaskan bahwa seluruh pembaruan perangkat lunak kendaraan mereka telah melalui proses pengujian dan regulasi ketat sebelum dirilis. Produsen lain seperti Xpeng, Nio, Zeekr, GAC Aion, dan Li Auto juga memberikan bantahan serupa terkait dugaan keterlibatan dalam praktik tersebut.
Di tengah bantahan itu, istilah “battery lock” menjadi sorotan publik. Praktik ini merujuk pada pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA) yang diduga dapat mengubah pengaturan sistem manajemen baterai, seperti membatasi kapasitas pengisian, mengurangi performa puncak, hingga memperpendek jarak tempuh kendaraan.
Dampaknya dikeluhkan sejumlah konsumen yang merasa kapasitas kendaraan listrik mereka menurun signifikan setelah pembaruan sistem. Dalam beberapa kasus, jarak tempuh yang sebelumnya mencapai sekitar 500 kilometer dilaporkan turun hingga 300 kilometer, disertai waktu pengisian yang lebih lama.
Data dari platform pengaduan konsumen China (12315) pada Maret 2026 mencatat lebih dari 12.000 keluhan terkait isu serupa, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini turut mendorong perhatian media pemerintah seperti CCTV untuk menyoroti persoalan tersebut.
Meski demikian, pabrikan kendaraan listrik menegaskan bahwa penyesuaian sistem baterai dilakukan demi keamanan dan menjaga umur pakai komponen. Mereka menolak anggapan bahwa pembaruan tersebut dilakukan secara diam-diam untuk merugikan konsumen.
Regulator China akhirnya turun tangan dengan memperketat aturan. Pemerintah melarang perubahan parameter baterai dilakukan tanpa persetujuan eksplisit pengguna, serta mewajibkan transparansi penuh dalam setiap pembaruan perangkat lunak kendaraan.
Bagi pengguna maupun calon pembeli mobil listrik, polemik ini menjadi pengingat penting bahwa teknologi OTA yang memudahkan pembaruan sistem juga membawa risiko baru. Konsumen kini dituntut lebih kritis dalam memahami dampak pembaruan perangkat lunak terhadap performa kendaraan mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































