Dari Penguasaan Tanah Menuju Digdaya Algoritma

5 hours ago 7

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada satu kesalahan yang terus berulang dalam cara manusia membaca sejarah. Kita terlalu sering mengira bahwa sejarah digerakkan oleh orang-orang yang berdiri di panggung, sementara panggung itu sendiri dibangun oleh kekuatan-kekuatan yang bekerja jauh dari sorotan.

Kita mengenang Aleksander Agung karena penaklukannya, Julius Caesar karena kejeniusannya, Napoleon Bonaparte karena strategi perangnya, Winston Churchill karena pidatonya, atau Franklin D Roosevelt karena kepemimpinannya.

Nama-nama mereka memenuhi buku sejarah, diabadikan dalam patung, dan menjadi simbol bagi zamannya masing-masing. Seolah-olah perjalanan peradaban ditentukan semata oleh keputusan seorang raja, seorang jenderal, atau seorang presiden.

Padahal sejarah selalu memiliki ruang yang lebih sunyi.

Di belakang setiap ekspansi wilayah terdapat kemampuan membiayai pasukan. Di balik setiap revolusi terdapat krisis ekonomi yang lebih dahulu menggerogoti tatanan lama.

Di balik setiap lompatan industri terdapat sistem keuangan yang memungkinkan modal bergerak melampaui batas-batas kerajaan. Bahkan di balik setiap mata uang yang dipercaya, terdapat institusi yang berhasil meyakinkan masyarakat bahwa hari esok masih layak dipertaruhkan.

Kekuasaan politik memang tampak di permukaan. Akan tetapi, kemampuan mempertahankan kekuasaan hampir selalu ditentukan oleh sesuatu yang tidak kasat mata: produktivitas, kepercayaan, dan pembiayaan.

Semakin jauh sejarah bergerak, semakin terlihat bahwa pusat kekuasaan tidak pernah benar-benar menetap. Ia berpindah mengikuti sumber daya yang paling menentukan produktivitas pada setiap zaman.

Inilah yang saya sebut sebagai hukum perpindahan pusat kekuasaan.

Hukum ini tidak lahir dari teori konspirasi, juga bukan dari spekulasi filosofis. Ia merupakan pola yang berulang dalam perjalanan panjang peradaban manusia. Ketika tanah menjadi sumber utama kemakmuran, kekuasaan mengikuti tanah.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|