Denyut Sarung Tangan Dunia di Gunungkidul dan Asa Ekspansi Woneel

10 hours ago 7

Denyut Sarung Tangan Dunia di Gunungkidul dan Asa Ekspansi Woneel

Proses produksi sarung tangan di PT Woneel Midas Leathers di Padukuhan Bangungsari, Candirejo, Semin, Kamis (10/9/2026)./ Harian Jogja-David Kurniawan

PT Woneel Midas Leathers di Padukuhan Bangunsari, Candirejo, Semin menjadi perusahaan yang memasok produk sarung tangan terkenal di dunia seperti Nike, Mizuno, Wilson dan lainnya. Berikut Pantauan wartawan Harian Jogja, David Kurniawan.

Pagi baru saja merambat di Padukuhan Bangunsari, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semin. Di balik ketenangan kawasan utara Kabupaten Gunungkidul tersebut, derap langkah ribuan warga memecah keheningan di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Candirejo. Sebelum jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB pada Kamis (10/9/2026), para pekerja sudah mengular rapi di depan pintu gedung. Mereka bersiap menuntaskan delapan jam masa kerja untuk merangkai helai demi helai sarung tangan olahraga yang kelak melintasi samudra menuju pasar global.

Di atas lahan seluas 2,9 hektare yang mulai dibangun sejak 2018 itu, berdiri empat gedung produksi megah dengan luas masing-masing berkisar 2.000 hingga 4.000 meter persegi. Hingga saat ini, PT Woneel Midas Leathers berdiri sebagai pemrakarsa tunggal yang menggerakkan roda manufaktur di kawasan tersebut. Sebelum memasuki ruang kerja yang terbagi atas divisi penjahitan, printing, finishing, hingga pengepakan, para pekerja diwajibkan menyimpan gawai di tempat yang disediakan perusahaan. Langkah ini menjaga konsentrasi serta kedisiplinan kerja tetap terjamin.

Di area finishing, jemari Shella Fitria Anjani meliuk lincah memasukkan sarung tangan ke dalam kardus kemasan sembari memastikan jumlahnya presisi sesuai standar pabrik. Bagi warga Padukuhan Bonpon, Kapanewon Semin ini, bekerja di Woneel membawa angin segar bagi kehidupannya.

“Saya senang, meski baru bekerja empat bulan. PT Woonel sangat memperhatikan karyawan,” kata Shella, Kamis siang.

Mantan karyawan toko berjejaring tersebut menuturkan bahwa selain menerima penghasilan sesuai Upah Minimum Kabupaten (UMK) Gunungkidul, ia telah mengantongi jaminan BPJS Kesehatan serta akses klinik internal. “Gajinya juga sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Gunungkidul. Kalau dibandingkan di kerjaan yang lama, di sini lebih enak,” ujarnya.

Rasa syukur senada diungkapkan Ugay Agana Bentar, pekerja asal Banaran 1, Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen. Mengabdi sejak 2020, jarak tempuh yang relatif terjangkau membuat Ugay dapat pulang pergi setiap hari.

“Terhitung dekat dan ini menjadi salah satu alasan tetap bertahan di PT Woonel sejak masuk pertama di 2020 lalu,” tutur Ugay.

Meski mengaku puas dengan iklim kerja dan tingkat penghasilan, ia menyisipkan harapan terkait infrastruktur. “Cuman akses jalan yang jadi catatan. Harapannya jalan rusak di kawasan pabrik bisa diperbaiki oleh Pemerintah,” katanya.

Jejak panjang perusahaan ini diurai oleh President Director PT Woneel Midas Leathers, Sang Chae (John) Rhee. Mengawali kiprah di industri sarung tangan olahraga sejak 1988 di Tangerang, perusahaan memutuskan merelokasi pusat produksinya ke Semin pada 2018.

“Kami butuh masa transisi selama dua tahun karena Perusahaan di Gunungkidul benar-benar bisa beroperasi penuh secara maksimal di 2020 lalu,” kata Rhee.

Kini, dengan sokongan lebih dari 2.000 tenaga kerja lokal, pabrik mampu menggenjot kapasitas hingga 600.000 hingga 750.000 pasang sarung tangan per bulan.

Seluruh hasil rakitan di Semin diekspor penuh dengan tujuan utama pasar Amerika Serikat untuk menyokong merek-merek papan atas dunia seperti Nike, Mizuno, Wilson, dan Marucci. Data ini selaras dengan daftar pemasok utama Amer Sports 2026 yang mencantumkan PT Woneel Midas Leathers di Candirejo, Semin, sebagai pemasok kategori Ball Sports dengan kekuatan 1.001–5.000 tenaga kerja. Ketekunan warga lokal menjadi alasan utama Rhee memilih Gunungkidul.

“Para pekerja baik dan mau belajar. Selain masalah biaya operasional, inilah yang menjadi alasan kenapa memilih lokasi pabrik di Gunungkidul dan bukan tempat lain,” ungkap Rhee.

Menatap masa depan, PT Woneel Midas Leathers telah merancang peta bisnis hingga 30 tahun mendatang. Perusahaan kini sedang mengurus perizinan ekspansi di atas sisa lahan dari total 3,5 hektare yang dimiliki, untuk membangun gedung operasional baru seluas 600 meter persegi. Rhee menegaskan pentingnya ketaatan prosedur dengan dukungan instansi seperti Bea Cukai dan Pemkab Gunungkidul.

“Untuk perizinan kami mendapatkan banyak dukungan karena upaya koordinasi terus dilakukan,” tuturnya.

Melalui perluasan ini, Woneel membidik lonjakan penyerapan tenaga kerja hingga tiga kali lipat. Efek domino ekonomi pun terbukti telah menghidupkan warung dan usaha kecil warga di sekitar pabrik.

“Banyak usaha di sekitaran pabrik sehingga manfaatnya banyak dirasakan oleh orang banyak. Saya sangat senang karena bisa berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di masyarakat,” jelas Rhee.

Tak berhenti di situ, Woneel juga berencana memperbesar fasilitas klinik pabrik agar dapat diakses warga umum, di samping rutin menyalurkan beasiswa pendidikan bagi anak-anak karyawan serta masyarakat sekitar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|