Diplomasi Selat Hormuz Menguat, Oman dan Iran Bahas Navigasi

4 hours ago 1

Harianjogja.com, MUSCAT—Pembicaraan terkait kebebasan navigasi di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian setelah Oman dan Iran menggelar pertemuan tingkat tinggi di Muscat, Minggu (24/5/2026). Agenda utama dalam diplomasi tersebut mencakup keamanan pelayaran internasional, rantai pasok global, hingga perkembangan negosiasi Iran dan Amerika Serikat (AS).

Pertemuan berlangsung antara Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dengan Wakil Menteri Luar Negeri Iran bidang Hukum dan Urusan Internasional Kazem Gharibabadi. Kementerian Luar Negeri Oman menyebut dialog itu dilakukan setelah Gharibabadi menyampaikan pesan dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengenai dinamika kawasan serta perkembangan perundingan Iran-AS yang dimediasi Pakistan.

Dalam keterangannya, Kementerian Luar Negeri Oman menjelaskan kedua delegasi melanjutkan pembahasan lebih luas mengenai prinsip-prinsip kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang harus berjalan sesuai hukum internasional. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia sehingga stabilitas kawasan dinilai berpengaruh besar terhadap distribusi minyak global.

Delegasi Oman dan Iran juga saling bertukar pandangan mengenai pentingnya memperkuat kapasitas bersama guna menjamin keamanan pelayaran, aktivitas perdagangan internasional, dan keberlangsungan rantai pasok. Upaya tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.

Pernyataan resmi Oman turut menegaskan bahwa kedua pihak membahas langkah untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz secara aman dan berkelanjutan. Pembahasan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas jalur laut internasional yang selama ini menjadi titik vital perdagangan dunia.

Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan adanya potensi nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepahaman tersebut disebut mencakup penghentian perang di seluruh front konflik, termasuk serangan Israel di Lebanon.

Laporan Tasnim juga menyebut Washington disebut akan berkomitmen melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran selama proses perundingan berlangsung. Kebijakan itu dipandang dapat menjadi salah satu langkah untuk membuka ruang negosiasi yang lebih luas antara kedua negara.

Apabila kesepakatan benar-benar tercapai, Selat Hormuz disebut tidak sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum perang. Meski demikian, jumlah kapal yang diizinkan melintas disebut akan dipulihkan ke tingkat sebelum konflik dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan berlaku.

Tasnim turut melaporkan bahwa Iran menegaskan penerapan hak kedaulatannya atas Selat Hormuz melalui berbagai mekanisme yang detailnya akan diumumkan kemudian. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Teheran tetap menempatkan Selat Hormuz sebagai kawasan strategis yang berada dalam kepentingan nasionalnya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (23/5/2026) mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran sebagian besar telah dinegosiasikan dan kini tinggal menunggu tahap finalisasi. Pernyataan itu muncul setelah kunjungan Panglima Militer Pakistan Asim Munir ke Teheran, yang menjadi kunjungan keduanya dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, Iran dan AS juga disebut telah mencapai kesepakatan gencatan senjata melalui mediasi Pakistan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|