Dunia Usaha Gandeng Akademisi Perkuat Fondasi Ilmiah Pengelolaan Hutan

9 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI — Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menggandeng Universitas Jambi untuk memperkuat fondasi ilmiah dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Kolaborasi ini diarahkan untuk mendorong riset terapan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta percepatan implementasi program prioritas kehutanan.

Kerja sama tersebut mengemuka dalam kunjungan APHI ke kampus Universitas Jambi pada Jumat (16/4/2026). Sinergi dunia usaha dan perguruan tinggi difokuskan pada pengembangan Multiusaha Kehutanan (MUK) berbasis lanskap serta penguatan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketua Umum APHI Soewarso menyampaikan keterlibatan akademisi menjadi kunci dalam memperkuat basis ilmiah perencanaan kehutanan. “Kami mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam pengembangan MUK berbasis lanskap, baik melalui riset, inovasi teknologi, maupun penyusunan model bisnis berkelanjutan,” ujarnya, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan pendekatan ilmiah diperlukan untuk menjawab tantangan ekologis dan ekonomi yang semakin kompleks. Integrasi ilmu pengetahuan dengan praktik industri dinilai mampu mempercepat transformasi pengelolaan hutan yang lebih adaptif dan terukur.

Soewarso juga menyoroti pentingnya strategi jangka benah dalam penanganan keberadaan kelapa sawit di kawasan hutan. Pendekatan ini membuka ruang penataan ulang tata kelola secara bertahap agar aspek legalitas, produktivitas, dan keberlanjutan lingkungan berjalan selaras.

Ia menilai strategi tersebut tidak berhenti pada kepatuhan regulasi, tetapi juga mengarah pada peningkatan nilai tambah usaha dalam jangka panjang. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan tata kelola kehutanan yang berorientasi keberlanjutan.

Dalam konteks karhutla, APHI memperkuat komitmen mitigasi berbasis kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan perguruan tinggi dipandang krusial untuk menekan risiko kebakaran, terutama di kawasan gambut.

“Pencegahan karhutla harus menjadi prioritas bersama dengan mengedepankan upaya dini, peningkatan kapasitas SDM, serta pemanfaatan teknologi untuk deteksi dan respons cepat,” kata Soewarso.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jambi Bambang Irawan menilai pengembangan MUK perlu terintegrasi dengan pendekatan jangka benah. Integrasi ini memungkinkan penataan kawasan berjalan bertahap dengan menjaga keseimbangan antara produksi, konservasi, dan kepastian hukum.

“Integrasi MUK dengan jangka benah menjadi langkah strategis untuk memastikan pengelolaan hutan yang produktif sekaligus berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan pendekatan berbasis lanskap juga penting dalam menjawab tantangan keterbatasan lahan pangan. Integrasi kehutanan dan pertanian membuka peluang optimalisasi ruang tanpa mengorbankan fungsi ekologis.

Bambang menambahkan pendekatan tersebut memungkinkan terciptanya keseimbangan antara produksi pangan, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Model ini dinilai relevan untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya hutan.

Dari sisi pendidikan, Jurusan Kehutanan Universitas Jambi memperkuat kapasitas melalui pengembangan Program Studi Silvikultur yang terhubung dengan kebutuhan industri. Kolaborasi dengan pelaku usaha diarahkan untuk memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

“Penguatan kurikulum berbasis praktik dan kebutuhan industri menjadi kunci dalam mencetak SDM kehutanan yang kompeten dan siap terjun ke lapangan,” kata Bambang.

Ia juga menyoroti peran strategis Universitas Jambi sebagai bagian dari pemangku kepentingan pembangunan kehutanan daerah. Keberadaan Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan menjadi modal awal untuk memperkuat implementasi MUK berbasis lanskap.

Kolaborasi multipihak melalui wadah tersebut dinilai dapat memperkuat koordinasi pengelolaan hutan dan pengendalian karhutla. Sinergi yang terbangun diharapkan mampu memperkuat fondasi ilmiah sekaligus mempercepat transformasi kehutanan berkelanjutan di tingkat daerah.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|