Petugas memperlihatkan contoh bahan bakar biodiesel saat rilis Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diese. / JIBI - Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam.
Harianjogja.com, JAKARTA— Pemerintah memastikan kebijakan mandatori biodiesel B50 akan berlaku serentak di seluruh sektor mulai 1 Juli 2026. Artinya, penggunaan campuran biodiesel 50 persen tidak lagi terbatas, melainkan diterapkan untuk semua moda dan kebutuhan energi.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan implementasi ini dilakukan setelah rangkaian uji coba menunjukkan hasil yang memenuhi standar.
“Mulai 1 Juli itu untuk semua sektor. Semua sektor pakai B50,” ujarnya saat ditemui di fasilitas uji di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (21/4/2026).
Saat ini, B50 masih dalam tahap uji jalan yang ditargetkan rampung pada Mei 2026 untuk sektor otomotif. Uji tersebut telah berlangsung sejak 9 Desember 2025 dengan melibatkan sembilan unit kendaraan.
Setelah uji jalan selesai, pemerintah akan melanjutkan evaluasi kondisi mesin untuk memastikan kompatibilitas bahan bakar. Seluruh rangkaian pengujian ditargetkan tuntas pada Juni 2026.
Selain kendaraan bermotor, pengujian juga dilakukan pada berbagai sektor lain, mulai dari alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, kereta api, hingga pembangkit listrik.
“Tidak ada lagi B40 mulai 1 Juli. Kalau dicampur, infrastrukturnya justru menyulitkan, sehingga kita jalankan serentak,” kata Eniya.
Dari sisi ekonomi, kebijakan ini diproyeksikan memberi dampak signifikan. Program biodiesel dinilai mampu meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) sekaligus menghemat devisa negara.
Pemerintah memperkirakan penghematan devisa mencapai Rp157,28 triliun pada 2026, naik dari sekitar Rp140 triliun sebelumnya.
Sementara itu, Airlangga Hartarto sebelumnya menyampaikan kebijakan B50 juga berpotensi menekan subsidi energi hingga Rp48 triliun.
Ia menambahkan, implementasi B50 diperkirakan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak fosil sekitar 4 juta kiloliter per tahun.
Dengan kesiapan infrastruktur, termasuk dari Pertamina, pemerintah optimistis kebijakan ini dapat berjalan sesuai jadwal dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Di Indonesia, bahan baku utama yang digunakan adalah minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) karena ketersediaannya yang melimpah. Namun, secara global, biodiesel juga diproduksi dari minyak kedelai, rapa (rapeseed), biji bunga matahari, hingga tanaman jarak pagar.
Proses pembuatannya melibatkan reaksi kimia yang disebut transesterifikasi, di mana minyak atau lemak direaksikan dengan alkohol (biasanya metanol) dan katalis untuk memisahkan gliserin dari metil ester (biodiesel).
Keunggulan dan Implementasi
Salah satu keunggulan utama biodiesel adalah sifatnya yang biodegradable (mudah terurai) dan memiliki kadar emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Selain itu, biodiesel memiliki angka setana (cetane number) yang lebih tinggi, yang berarti pembakaran dalam mesin terjadi lebih efisien.
Saat ini, biodiesel biasanya digunakan dalam bentuk campuran dengan solar murni, seperti program B35 yang menggabungkan 35% biodiesel dengan 65% minyak solar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































