Fans Maroko Sambut Gelar Give Away Piala Afrika, Belum Lega karena Masih Ada Upaya Banding Senegal

1 hour ago 1

Suporter sepak bola Senegal merayakan gelar juara Piala Afrika 2025 di Dakar, Senegal, Ahad (18/1/ 2026) waktu setempat. Senegal berhasil menjadi juara Piala Afrika setelah mengalahkan Maroko di partai final dengan skor 1-0. Gol kemenangan Senegal dicetak Pape Alassne Gueye pada menit ke-94 babak perpanjangan waktu. Ini adalah gelar juara Piala Afrika yang diraih oleh Senegal setelah sebelumnya jadi juara di tahun 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gelar juara Piala Afrika 2025 yang diberikan kepada Maroko oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) disambut sukacita oleh para pendukung tim Singa Atlas. Namun, di tengah euforia itu, kekhawatiran tetap membayangi setelah Senegal memastikan akan mengajukan banding atas keputusan kontroversial itu ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

CAF pada Selasa lalu menetapkan Maroko sebagai juara setelah menyatakan Senegal kalah dalam final Piala Afrika, 18 Januari 2026, di Rabat. Keputusan itu diambil karena Senegal sempat meninggalkan lapangan selama 14 menit sebagai bentuk protes atas penalti yang dinilai berpotensi menentukan jalannya pertandingan.

Padahal, setelah kembali ke lapangan, Senegal sempat menuntaskan laga dengan kemenangan 1-0 lewat babak perpanjangan waktu. Namun, Dewan Banding CAF kemudian membatalkan hasil pertandingan tersebut dan menetapkan kemenangan 3-0 untuk Maroko.

Federasi Sepak Bola Senegal menolak putusan itu dan menyebutnya sebagai keputusan yang “belum pernah terjadi sebelumnya” serta “tidak dapat diterima”. Mereka pun memastikan akan membawa perkara tersebut ke CAS.

Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko menilai keputusan itu merupakan bentuk “penerapan aturan secara ketat” yang penting bagi masa depan sepak bola Afrika.

Di Maroko, reaksi publik mayoritas bernada positif. Banyak suporter menilai keputusan itu sebagai bentuk keadilan yang akhirnya ditegakkan.

“Yang mengejutkan justru keputusan yang adil benar-benar diambil. Tetapi jika melihat alasannya, itu logis dan memberikan keadilan bagi tim yang memang pantas meraih gelar,” kata Abdelmalek Hamza, seorang penggemar sepak bola di Casablanca.

Ia menilai putusan tersebut juga menjadi preseden penting bahwa tindakan meninggalkan lapangan saat pertandingan berlangsung tidak bisa dibenarkan.

“Keputusan itu diambil secara tegas, dan tim nasional serta rakyat Maroko pantas mendapatkan kemenangan dan gelar ini,” ujarnya.

sumber : Reuters

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|