REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit perlemakan hati atau fatty liver kerap berkembang tanpa tanda-tanda yang jelas. Kondisi ini bahkan bisa terjadi pada siapa saja, termasuk mereka yang masih berada di usia produktif. Karena sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal, para ahli menyebut fatty liver sebagai silent killer yang perlu diwaspadai.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan tren penyakit tidak menular terus meningkat di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah gangguan metabolik yang dapat berujung pada berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit hati.
"Kami fokus pada pencegahan penyakit tidak menular yang trennya terus meningkat. Penyakit ini tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses panjang, mulai dari tidak memiliki faktor risiko hingga akhirnya menjadi sakit," ujar Nadia, Kamis (11/6/2026), dalam diskusi Global Fatty Liver Day 2026.
Ia menjelaskan, fatty liver merupakan kondisi yang perlu mendapat perhatian karena sering berkembang diam-diam tanpa gejala. Risiko penyakit ini meningkat seiring naiknya angka obesitas di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa mencapai 23,4 persen, sementara obesitas sentral mencapai 36,8 persen.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM, Prof Rino Alvani Gani, menjelaskan fatty liver terjadi akibat penumpukan lemak berlebih di hati yang kemudian merusak sel-sel hati dan mengganggu berbagai proses metabolisme tubuh. Menurut dia, kondisi tersebut tidak muncul karena sesekali mengonsumsi makanan berlemak.
Fatty liver lebih sering dipicu pola makan tidak sehat yang berlangsung terus-menerus, makan berlebihan, serta penumpukan lemak dalam tubuh.
"Pada tahap awal, penyakit ini biasanya tidak menimbulkan gejala sehingga banyak kasus tidak terdeteksi. Karena itu, fatty liver sering disebut sebagai silent killer," kata Rino.
Rino menambahkan, dampak fatty liver tidak hanya terbatas pada hati. Penyakit ini berkaitan erat dengan diabetes, gangguan ginjal, pankreas, hingga penyakit jantung. Bahkan penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian pada pasien dengan penyakit hati berlemak terkait gangguan metabolik atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).
Ia mengungkapkan sekitar 80 persen orang dengan obesitas mengalami fatty liver. Namun, kondisi ini juga dapat ditemukan pada 10 hingga 15 persen orang yang tidak gemuk. Faktor genetik, aktivitas fisik, kondisi mikrobioma usus, hingga paparan polusi turut memengaruhi risiko seseorang mengalami perlemakan hati.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap dirinya aman hanya karena memiliki berat badan normal. Fatty liver juga dapat terjadi pada usia produktif, bahkan sejak usia 30 tahun. Anak-anak dengan obesitas pun perlu diwaspadai karena berisiko mengalami gangguan hati saat remaja maupun dewasa.

20 hours ago
9

















































