REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gangguan pertumbuhan pada anak berisiko menimbulkan kerugian ekonomi dalam jangka panjang. Selain membutuhkan biaya penanganan, keterlambatan mengenali gangguan pertumbuhan dinilai dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensinya hingga dewasa.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, mengatakan dampak ekonomi gangguan pertumbuhan perlu diperhitungkan karena setiap anak memiliki potensi yang dapat berkontribusi ketika dewasa.
“Kalau kita melihat tadi bagaimana kalau ada keterlambatan, kita harus melihat ini dalam hal ini secara ekonomi,” kata Aman dalam media briefing Children’s Growth Awareness Week 2026 di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Menurut Aman, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah biaya penanganan gangguan pertumbuhan. Dia menyebut masih ada keluarga yang membawa anak berobat ke Singapura dan Malaysia meskipun biaya pengobatan di kedua negara tersebut lebih mahal.
“Ini harganya mahal. Tapi tetap banyak juga yang ke Singapura dan ke Malaysia dengan harga di sana toh lebih mahal,” ujarnya.
Namun, dampak ekonomi menurut Aman tidak hanya berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan keluarga untuk pengobatan. Keterlambatan penanganan juga dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk mencapai potensi terbaiknya.
“Kita bisa hitung setiap anak itu berapa hilang kesempatannya, loss-nya dia kalau tidak kita obatin,” kata dia.
Aman mengatakan potensi anak tersebut perlu dilihat dalam jangka panjang. Menurut dia, seorang anak dengan potensi tertentu dapat berkembang menjadi tenaga profesional maupun pemimpin di masa depan.
“Potensi semua anak ini sama dan harusnya kita berikan sama. Negara harus memberikan hak ini sama,” ujarnya.
Karena itu, Aman menilai gangguan pertumbuhan perlu dikenali sejak dini. Menurut dia, orang tua tidak hanya perlu melihat tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi juga memperhatikan pola pertumbuhan dan laju pertambahan tinggi dari waktu ke waktu.
Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Gangguan pertumbuhan sendiri tidak selalu berkaitan dengan persoalan nutrisi. Dalam bahan edukasi Merck, perawakan pendek pada anak dapat berkaitan dengan gangguan hormon seperti Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hipotiroidisme, faktor genetik, hingga kondisi medis kronis lainnya.
Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin mengatakan kesadaran masyarakat mengenai gangguan pertumbuhan masih rendah. Bahkan, masyarakat yang sudah menyadari kondisi tersebut belum tentu mendapatkan penanganan di dalam negeri.
“Awareness-nya masih sangat rendah. Bahkan kalau ada yang aware, yang aware pun keluar negeri berobatnya,” kata Evie.
Menurut Evie, anak yang bertubuh pendek juga tidak selalu mengalami stunting. Karena itu, pemantauan pertumbuhan secara rutin penting dilakukan agar orang tua dapat mengenali pola pertumbuhan yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Merck turut memperkenalkan laman interaktif takartinggi.com sebagai sarana membantu orang tua memantau pertumbuhan anak. Evie menegaskan laman tersebut bukan alat diagnosis, melainkan sarana pemantauan untuk membantu orang tua mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

2 hours ago
2















































