Gelora Spirit Bandung Dalam KTT BRICS 2026 di India

2 hours ago 3

Oleh: Dr. CA. Jamaluddin, LC, Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia – Timur Tengah dan Isu-isu Global

REPUBLIKA.CO.ID, Jas Merah alias jangan sekali-kali melupakan sejarah, itulah nampaknya benang merah dari pernyataan Presiden RI, Prabowo Subianto di KTT BRICS Ke-18 yang diselenggarakan di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 12–13 September 2026 di bawah kepemimpinan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Dalam pidatonya sebagaimana dilansir sejumlah media, Presiden Prabowo menyampaikan tiga pesan penting mengenai kemandirian dan ketahanan nasional (pangan dan energi), penguatan persatuan negara-negara Global South, serta tata kelola global yang inklusif dan adil. Poin penting yang disampaikan Presiden Prabowo, adalah penegasannya kembali bahwa Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kerja sama multilateral, menolak diintervensi atau didikte oleh kekuatan asing, serta mengangkat kembali The Spirit of Bandung (Konferensi Asia-Afrika 1955). 

Dari tema KTT yang diusung kali ini, yakni: "Building for Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability" (Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan) khususnya antar negara-negara berkembang --yang sebagian besar tergabung dalam BRICS—nampaknya The Spirit of Bandung memiliki korelasi yang erat dengan KTT BRICS kali ini? Melanjutkan premis tersebut pertanyaan lainnya yang timbul kepermukaan, Apakah benar Forum ini sebuah upaya untuk membendung hegemoni barat (AS) dalam tatanan dunia baru dan pererekenomian global?

Pernyataan Presiden Prabowo kali ini, sejatinya berangkat dari premis bahwa Konferensi Bandung 1955 menandai titik balik sejarah yang menantang tatanan internasional yang berpusat pada kekuatan besar Barat serta mengawali norma-norma internasional yang bersifat de-kolonial. Selanjutnya bagaimana prinsip-prinsip utama dari spirit Bandung telah diwariskan dan ditransformasikan melalui berbagai institusi Global Selatan, seperti Gerakan Non-Blok (GNB), Kelompok 77 (G77), BRICS+, dan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Selatan-Selatan. 

Jika dianalisa lebih dalam dari deklarasi akhir KTT BRICS kali ini serta catatan resmi berbagai kerangka kerja sama utama kelompok ini, terungkap tiga hal penting yang telah diadopsi baik langsung (direct) maupun tidak langsung (undirect). Pertama, prinsip-prinsip Bandung mengenai kedaulatan, non-intervensi, kesetaraan, dan kerja sama timbal balik telah diperluas secara bertahap untuk mencakup agenda-agenda global baru seperti kemandirian ekonomi. Caranya melalui perluasan untuk menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan dan mengembangkan sistem pembayaran alternative, guna mengurangi ketergantungan pada dolar –yang dianggap sebagai simbol perlawanan- dan memitigasi risiko nilai tukar, walaupun kelompok ini belum  mengadopsi mata uang tunggal saat ini.

Kedua, BRICS diharapkan berperan sebagai penantang normatif terhadap tatanan ekonomi internasional yang neo-kolonial dengan mengadvokasi perdagangan global yang lebih adil dan memperkuat kerja sama Selatan-Selatan. Karena itu diperlukan instrumen pembiayaan yang fleksibel melalui perlunya reformasi sistem keuangan internasional, dan mengembangkan instrumen pembiayaan yang mudah diakse, seperti Bank DNB (Bank Pembangunan Baru) yang telah didirikan BRICS.

Ketiga, BRICS bukan sebagai blok politik tunggal, melainkan sebagai bentuk multilateralisme berbasis jejaring dengan fungsi-fungsi yang saling melengkapi, sehingga berupaya mewujudkan bentuk tata kelola alternatif di luar tatanan yang berpusat pada Barat. Hal ini menegaskan negara-negara yang tergabung dalam kelompok BRICS bukanlah sekadar penerima norma yang pasif, melainkan turut berperan aktif dalam menciptakan norma internasional bersama Global North (Global Utara), serta memosisikan diri sebagai aktor sentral dalam restrukturisasi tatanan dunia. 

Kembali kepada pernyataan Presiden Prabowo, dalam sesi terbatas bertema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”, Presiden Prabowo membawa semangat persatuan bangsa-bangsa Global South melalui pepatah Indonesia tentang pentingnya kebersamaan dalam menghadapi tantangan global, united we stand, divided we fall (bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh). Melansir pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, bagi Presiden Prabowo, pepatah tersebut bukan sekadar ungkapan tentang persatuan. 

Pesan itu mencerminkan semangat yang sejak puluhan tahun lalu telah menyatukan negara-negara Asia dan Afrika dalam perjuangan untuk berdiri sejajar, menentukan masa depannya sendiri, serta memperjuangkan kepentingan bersama. Spirit tersebut, menurut Presiden tetap relevan di tengah tatanan dunia dan perubahan geopolitik saat ini. Negara-negara Global South yang memiliki pengalaman sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan dari imperialisme dan kolonialisme kini hadir bersama sebagai bangsa-bangsa yang setara.

Dengan fondasi yang kuat, Presiden Prabowo meyakini BRICS dapat terus memperluas dan memperkuat kerja sama di berbagai bidang yang berpengaruh langsung terhadap ketahanan negara-negara anggotanya. Salah satu bidang yang dinilai strategis adalah energi, khususnya melalui penguatan konektivitas sistem energi dan ketahanan energi antarwilayah.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|