Satu Abad Gontor: Merawat Jangkar Tradisi, Mengayuh Dayung Transformasi Global

2 hours ago 3

Oleh: KH Imam Jazuli Lc., MA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Waktu berjalan begitu cepat, namun jejak yang ditinggalkannya di bumi Darussalam tetap abadi. Menjelang puncak peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, ingatan saya mendadak kembali ke masa-masa ketika berdiri di bawah bayang-bayang menara masjidnya yang ikonik.

Sebagai seorang yang beruntung pernah menimba ilmu dan menjadi santri di sana—meski hanya untuk waktu yang tidak lama—ada getaran emosional yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Nasib saya serupa dengan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan ribuan alumni lainnya yang mungkin tidak sampai menyelesaikan studi hingga tahun terakhir, namun kami semua sepakat pada satu hal: kami tetap mereguk keberkahan yang sama.

Gontor tidak pernah membedakan siapa yang keluar sebagai lulusan atau siapa yang hanya singgah sebentar. Karakter yang ditanamkan telanjur merasuk ke dalam sumsum tulang belakang kami. Menatap Gontor di ambang abad keduanya bukan sekadar merayakan angka seratus tahun. Ini adalah momentum kontemplasi tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan yang lahir dari rahim desa kecil di Ponorogo mampu menjelma menjadi kiblat peradaban Islam modern.

Dari sebuah langgar kecil, kini Gontor telah menggurita menjadi institusi raksasa dengan 21 cabang di seluruh Indonesia, mendidik 16.000 santri aktif, menaungi 18.000 jiwa jika dihitung bersama para guru, dan bergerak dinamis hingga mencapai 22.000 ekosistem manusia termasuk mahasiswa serta dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Niat Ikhlas Trimurti: Akar Sejarah yang Menembus Zaman

Untuk memahami kebesaran Gontor hari ini, kita harus mundur ke tahun 1926. Di tengah cengkeraman kolonialisme Belanda dan kejumudan berpikir masyarakat, tiga bersaudara—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi—yang kemudian dikenal sebagai Trimurti, meletakkan batu pertama sebuah visi radikal.

Saat itu, pesantren di Indonesia umumnya hanya mengajarkan kitab kuning dengan metode tradisional (wetonan dan sorogan). Trimurti mendobrak sekat tersebut. Mereka menjadi pelopor pondok modern di eranya dengan memasukkan pelajaran umum, dan geografi ke dalam kurikulum pesantren.

Langkah ini sempat memicu kontroversi dan dipandang sinis oleh kaum tradisionalis. Namun, Trimurti bergeming. Landasan filosofis mereka adalah Pondok adalah lapangan perjuangan, bukan tempat mencari penghidupan.Keikhlasan total Trimurti inilah yang menjadi bahan bakar abadi Gontor.

Mereka tidak mewariskan pondok ini kepada anak-cucu sebagai harta keluarga, melainkan mewakafkannya kepada umat Islam pada tahun 1958. Sebuah terobosan hukum Islam dan manajerial yang tiada tandingannya pada masa itu, memastikan bahwa Gontor selamanya milik umat, bukan milik dinasti.

Sintesis Epik: Menatap di Atas Semua Golongan

Salah satu keunikan paling mutakhir dari Gontor adalah keteguhannya untuk berdiri di atas dan untuk semua golongan. Gontor menerima santri dari organisasi kemasyarakatan (ormas) apa pun tanpa pernah berafiliasi pada parpol atau ormas tertentu. Di Gontor, identitas "aku NU" atau "aku Muhammadiyah" lebur menjadi satu: Aku Santri Gontor.

Analis sejarah dan sosiologi Islam akan terpukau melihat fakta unik bagaimana dua ormas Islam terbesar di Indonesia pernah dinakhodai secara bersamaan oleh alumni Gontor. Almarhum KH Hasyim Muzadi memimpin Nahdlatul Ulama (NU), sementara Prof. Dr. KH Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah. Fenomena itu menjadi bukti sahih bahwa Gontor melahirkan para pemersatu umat, bukan pemecah belah.Dari rahim kurikulumnya yang kosmopolitan, lahir pula begawan intelektual dan budayawan yang mewarnai arah bangsa.

Kita mengenal Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang menjembatani Islam dan keindonesiaan, Prof. Dr. Amin Abdullah yang merevolusi integrasi-interkoneksi keilmuan di UIN, hingga budayawan kharismatik Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang mengajarkan kemanusiaan lewat seni. Gontor adalah laboratorium manusia yang membebaskan pikiran, tanpa mencabut akar keimanan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|