Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar logam mulia global memasuki fase titik balik yang krusial pada awal 2026. Komoditas perak (silver), yang selama bertahun-tahun kerap diposisikan sebagai "adik emas", akhirnya mencatatkan reli historis yang mengubah persepsi investor.
Pada pertengahan Januari 2026, harga perak spot menembus dan bertahan di atas US$ 90 per troy ounce. Ini merupakan level psikologis yang sebelumnya nyaris tidak pernah terbayangkan dalam pasar modern. Reli harga perak kemudian berlanjut dengan cepat hingga menembus US$ 100 per ounce yang menandai fase baru dalam siklus harga perak global.
Pergerakan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Reli harga perak merupakan refleksi dari kombinasi tekanan struktural sisi pasokan, lonjakan permintaan industri, serta perubahan rezim makro global, khususnya terkait kebijakan moneter dan ketidakpastian geopolitik.
Dibandingkan emas, perak memiliki karakter unik lantaran berada di persimpangan antara aset lindung nilai (safe haven) dan bahan baku industri strategis. Alhasil, sensitivitasnya terhadap siklus ekonomi dan teknologi jauh lebih tinggi.
Pergerakan Harga Perak: Data dan Skala Reli
Breakout US$90: Titik Balik Historis
Pada 14 Januari 2026, harga perak melonjak sekitar 7,5% dalam satu hari perdagangan, mencapai US$93,42 per ounce pada level intraday. Ini merupakan breakout pertama kali dalam sejarah pasar modern di mana perak mampu menembus dan bertahan di atas US$90. Sebelum level tersebut, harga juga sempat menyentuh US$91,55 per ounce, menandakan bahwa permintaan beli sangat kuat bahkan setelah resistance jangka panjang ditembus.
Menuju US$100 dan Di Atasnya
Momentum tidak berhenti di sana, menjelang 23 Januari 2026 harga perak resmi menembus level US$100 per ounce, dengan kisaran tertinggi dilaporkan berada di US$101-US$103 tergantung pada referensi pasar. Level ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mengonfirmasi bahwa pasar sedang memasuki fase super cycle, di mana kenaikan harga didorong oleh faktor struktural, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.
Skala Kenaikan dalam Perspektif Jangka Panjang
Dalam 12 bulan terakhir, harga perak telah mencatatkan reli lebih dari 147%, menjadikannya salah satu aset komoditas dengan performa terbaik dalam satu dekade. Bahkan sejak awal 2026 saja, sebelum reli menuju US$100, harga perak sudah naik lebih dari 40%. Skala kenaikan ini jauh melampaui rata-rata historis silver dan menempatkannya sejajar dengan aset berisiko tinggi, meskipun secara fundamental ia tetap tergolong logam mulia.
Fundamental Silver: Mengapa Reli Ini Terjadi?
1. Supply Squeeze yang Bersifat Struktural
Salah satu pendorong utama reli silver adalah ketatnya pasokan fisik global. Stok perak di pusat perdagangan utama seperti LBMA (London Bullion Market Association) dan COMEX (Amerika Serikat) berada di level yang sangat rendah dibandingkan rata-rata historis. Yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah karakter produksi perak itu sendiri.
Lebih dari 70% produksi perak global berasal sebagai produk sampingan dari tambang logam lain seperti tembaga, emas, dan seng. Artinya, ketika harga perak naik, produsen tidak bisa dengan cepat meningkatkan produksi hanya karena harga silver lebih tinggi. Respons pasokan menjadi lambat, sehingga setiap lonjakan permintaan langsung tercermin ke harga.
2. Lonjakan Permintaan Industri yang Tidak Elastis
Berbeda dengan emas, perak memiliki peran krusial dalam sektor industri modern. Ia digunakan secara luas dalam:
● panel surya dan energi terbarukan,
● kendaraan listrik dan sistem baterai,
● elektronik presisi dan semikonduktor,
● teknologi AI, data center, dan otomasi industri.
Transisi energi global dan ekspansi teknologi membuat permintaan perak bersifat struktural dan jangka panjang, bukan siklikal. Bahkan pada harga tinggi, banyak sektor industri tidak memiliki substitusi yang efisien untuk perak, sehingga permintaan relatif tidak elastis terhadap kenaikan harga.
3. Repricing Silver sebagai Aset Makro
Dalam lingkungan global yang ditandai oleh ketidakpastian geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, serta volatilitas pasar finansial, investor mulai mereposisi perak sebagai aset makro strategis. Silver kembali dipandang sebagai:
● lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang,
● alternatif emas dengan volatilitas dan potensi return lebih tinggi,
● instrumen diversifikasi portofolio dalam rezim suku bunga yang berubah.
Perubahan persepsi inilah yang mendorong arus modal masuk secara agresif ke pasar perak, baik melalui pasar fisik maupun instrumen keuangan.
Dampak ke Saham Pertambangan dan Pasar Keuangan
Reli harga perak dengan cepat diterjemahkan ke pasar ekuitas, khususnya saham pertambangan. Saham miner perak cenderung memiliki leverage operasional yang tinggi, di mana setiap kenaikan harga perak langsung meningkatkan pendapatan per ounce, sementara biaya produksi relatif stabil. Akibatnya, margin laba melonjak dan valuasi saham sering naik lebih cepat dibandingkan harga logamnya sendiri.
Selain saham, arus modal juga mengalir ke produk ETF berbasis perak, yang memungkinkan investor mendapatkan eksposur tanpa harus menyimpan logam fisik.
ETF Silver dan Peran iShares Silver Trust (SLV)
Salah satu instrumen yang paling banyak digunakan investor global adalah iShares Silver Trust (SLV) yang dikelola oleh Blackrock sejak tahun 2006. Blackrock merupakan salah satu fund manager terbesar di dunia dengan total dana kelolaan US$14 triliun per Januari 2026.
ETF ini dirancang untuk melacak harga perak fisik, di mana setiap unitnya didukung oleh kepemilikan silver bullion. Dalam fase reli menuju dan melewati US$100 per ounce, SLV mencatatkan peningkatan volume perdagangan dan aliran dana yang signifikan, mencerminkan meningkatnya minat investor institusional maupun ritel.
Bagi investor, SLV menawarkan beberapa keunggulan. Di antaranya adalah eksposur langsung terhadap harga perak global, likuiditas tinggi dan transparansi harga, efisiensi dibandingkan kepemilikan fisik, serta fleksibilitas untuk strategi jangka pendek maupun jangka panjang.
Akses Silver bagi Investor Indonesia melalui Pluang
Bagi investor Indonesia, momentum silver 2026 dapat diakses secara praktis melalui ETF iShares Silver Trust (SLV) yang tersedia di aplikasi Pluang. Melalui satu platform, investor dapat:
● Most Complete Trading App: Akses ke 2.000+ aset secara instan. Anda bisa menangkap momentum di Bursa Efek Indonesia sekaligus melakukan positioning di pasar global (NYSE, Nasdaq) hanya dalam satu aplikasi.
● Most Competitive Spread & USDT: Esensial bagi scalper dan day trader untuk meminimalkan cost of trading dan memaksimalkan profitabilitas bersih.
● Trade with Aura AI: Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk analisis sentimen dan identifikasi sinyal pasar secara real-time.
● High Leverage Options: Tersedia 25x Leverage pada Crypto Futures dan 4x Leverage pada AI Stocks yang dapat ditradingkan 24 jam.
● Advanced Derivatives: Dukungan untuk US Stocks Options (Long & Short), memungkinkan strategi hedging atau spekulasi volatilitas tingkat lanjut.
● Akses Global: Memungkinkan pembelian Saham AS (seperti Apple, Nvidia) dan indeks S&P 500.
● Multi-Aset: Anda bisa menyeimbangkan portofolio saham dengan Emas Digital (aset safe haven) atau Crypto (aset pertumbuhan tinggi) tanpa perlu berpindah aplikasi.
● Keamanan Terjamin: Dana disimpan terpisah di bank kustodian berizin, diawasi regulator, dan data dilindungi enkripsi standar internasional.
● Fitur Pendukung: Dilengkapi Pocket, sinyal trading, dan berita pasar terkini untuk mendukung keputusan investasi Anda.
Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek.
Reli perak di awal 2026 bukan sekadar lonjakan harga jangka pendek, melainkan refleksi dari pergeseran struktural global. Kombinasi supply squeeze, permintaan industri yang terus meningkat, serta perubahan lanskap makro telah mendorong perak ke level historis baru. Dengan volatilitas yang tetap tinggi, silver kini menempati posisi strategis dalam portofolio global.
Bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang ini secara efisien, ETF seperti SLV melalui aplikasi Pluang menjadi salah satu instrumen yang relevan untuk mengakses potensi silver dalam fase super cycle 2026.
Disclaimer: Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

















































