REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH -- Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jemaah haji Indonesia diimbau untuk tidak memaksakan diri beribadah, terutama bagi lansia dan jemaah berisiko tinggi. Fokus utama saat ini adalah menjaga kondisi fisik agar tetap prima saat memasuki fase paling krusial dalam ibadah haji.
Kepala Seksi Bimbingan dan Ibadah (Bimbad) dan KBIHU PPIH Daker Makkah, Erti Herlina, menyampaikan mayoritas jemaah yang telah tiba di Makkah sudah menunaikan umrah wajib dan kini memasuki masa persiapan menuju Armuzna.
"Alhamdulillah ini sudah hari keempat kedatangan jemaah haji Indonesia dari Madinah ke kota Makkah dan Alhamdulillah hampir 90 persen dari jemaah haji yang sampai di Makkah ini sudah melaksanakan umrah wajib," ujarnya, ditemui usai kegiatan visitasi dan edukasi kepada jamaah di Hotel Lulua Al Mashaer, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, saat ini berbagai kegiatan edukasi terus dilakukan, baik terkait fikih ibadah maupun kesehatan, untuk mempersiapkan jemaah secara menyeluruh. Meski semangat beribadah di Masjidil Haram sangat tinggi, Erti mengingatkan agar jemaah tidak mengabaikan kondisi tubuh, terutama lansia.
"Kadang mengabaikan kesehatan terutama bagi para lansia. Mungkin bagi yang muda untuk sehari dua kali ke Haram itu tidak masalah. Tetapi bagi lansia ini jika dilakukan terus-menerus dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan," katanya.
Ia menegaskan, ibadah di hotel tetap memiliki nilai pahala yang besar selama berada di Tanah Haram. "Untuk para lansia khususnya bisa melakukan ibadah sholat di hotel, itu tidak mengurangi pahala. Insya Allah selama kita berada di Tanah Haram seluruh kebaikan-kebaikan kita Allah lipat gandakan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Pelaksana Bimbad Daker Makkah, Abdul Aziz Siswanto, mengingatkan jemaah untuk mengutamakan keselamatan jiwa dibanding memaksakan ibadah.
"Yang harus kita ingat bahwa seluruh wilayah Tanah Haram ini memiliki keutamaan Masjid Al-Haram,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga diri dan tidak mengikuti dorongan berlebihan. "Maka pentingnya kita untuk mengedukasi jemaah terutama berkebutuhan khusus, baik itu perempuan, lansia, disabilitas, untuk tetap stay, mengutamakan hifzun nafsi-nya dulu, menjaga keselamatan jiwanya," tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar jamaah tidak saling memengaruhi untuk beribadah berlebihan hingga memaksakan diri. "Jangan sampai mereka menjadi minder, akhirnya mereka memaksakan diri. Jangan sampai,” katanya.
Sebagai solusi, jamaah yang memiliki keterbatasan dianjurkan mengoptimalkan ibadah di pemondokan. Menurutnya, ibadah di hotel justru bisa dilakukan dengan lebih tenang dan aman tanpa risiko kelelahan atau tersesat.
"Jamaah diminta untuk memperhatikan kemampuan masing-masing, yang penting bisa menjaga keselamatan, keamanan, itu lebih utama," pungkasnya.

2 hours ago
6

















































