REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pakar kebencanaan Indonesia mengingatkan pemerintah dan masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk bersiap menghadapi potensi gempa megathrust yang diprediksi memiliki siklus ulang 200 tahun. Saat ini, diperkirakan berada pada fase 30 tahun terakhir.
Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Prof Dwikorita Karnawati menyebutkan wilayah selatan Jawa, termasuk Yogyakarta, saat ini berada pada fase 30 tahun terakhir dari siklus besar tersebut, sebagaimana studi pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) atau ITB University.
"Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi hasil studi sains untuk mendukung kebijakan. Kita berada di ujung siklus 200 tahun yang belum rilis energinya. Potensi magnitudo bisa mencapai 8,7, sehingga kesiapsiagaan di DIY harus ditingkatkan secara serius," kata dia dalam seminar peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta diikuti dari Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Dwikorita yang juga mantan kepala BMKG tersebut, menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang adaptif, seperti telah diterapkan pada Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), guna meminimalkan risiko jatuh korban jiwa saat energi megathrust tersebut dilepaskan.
Bandara YIA dinilai kalangan ahli merupakan satu-satunya infrastruktur penerbangan di Asia Tenggara yang didesain secara serius untuk tahan terhadap guncangan gempa magnitudo 8,7 serta terjangan tsunami setinggi 15 meter. Bangunan tersebut dirancang untuk tetap kokoh dan mampu menjadi tempat evakuasi sementara bagi sekitar 12.000 orang di lantai mezanin dan terminal.
sumber : Antara

5 hours ago
3

















































