Foto ilustrasi serangan udara, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap elite Iran disebut bukan serangan spontan. Laporan menyebut keberhasilan operasi itu ditopang analisis intelijen mendalam oleh Central Intelligence Agency (CIA).
Mengutip The New York Times, CIA memantau pola pergerakan dan perilaku Ali Khamenei selama berbulan-bulan. Data intelijen mengindikasikan adanya pertemuan rahasia pejabat tinggi Iran di kompleks pemerintahan yang menaungi kantor presiden serta Dewan Keamanan Nasional pada Sabtu pagi.
Waktu Operasi Diubah Mendadak
Awalnya, Washington dan Tel Aviv merancang serangan pada malam hari. Namun, informasi terbaru soal pertemuan tertutup tersebut membuat jadwal operasi diubah untuk meningkatkan dampak strategis.
Informasi koordinat presisi kemudian diteruskan kepada militer Israel. Jet tempur dilaporkan lepas landas sekitar pukul 06.00 waktu Israel. Pada pukul 09.40 waktu Teheran, rudal presisi tinggi menghantam kompleks pemerintahan dan menciptakan apa yang disebut sebagai “kejutan taktis”.
Korban dari Jajaran Elit Militer
Kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), mengonfirmasi tewasnya dua pejabat militer senior:
- Laksamana Muda Ali Shamkhani
- Mayor Jenderal Mohammad Pakpour
Seorang mantan pejabat AS menyebut peningkatan kemampuan intelijen Washington terjadi seusai konflik 12 hari pada Juni tahun lalu. Pengalaman tersebut memungkinkan pemetaan pola komunikasi dan pergerakan elite Iran secara lebih akurat.
Selain kompleks kepemimpinan, serangan lanjutan dilaporkan menghantam lokasi persembunyian perwira intelijen utama Iran.
Operasi ini memperlihatkan lemahnya sistem keamanan internal Iran dalam mengantisipasi pengawasan intelijen asing, sekaligus mempertegas eskalasi konflik regional yang kian terbuka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































