Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA – Iran dilaporkan mulai melakukan penyesuaian signifikan terhadap produksi minyaknya setelah adanya blokade yang diberlakukan Angkatan Laut Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari laporan Bloomberg yang merujuk pada pejabat senior.
Langkah pengurangan produksi tersebut disebut sebagai strategi pencegahan Teheran agar kapasitas penyimpanan minyak tidak mencapai titik penuh, dibandingkan menunggu tangki-tangki penampungan meluap akibat keterbatasan distribusi. Namun, Bloomberg tidak merinci identitas maupun asal negara pejabat yang memberikan informasi tersebut.
Dalam laporan yang sama, kantor berita bisnis asal Amerika Serikat itu menyebutkan bahwa para insinyur di Iran masih memiliki kemampuan teknis untuk menutup sumur minyak sementara waktu, tanpa menyebabkan kerusakan permanen pada fasilitas produksi, sehingga aktivitas dapat kembali dijalankan ketika kondisi memungkinkan.
Sementara itu, dinamika konflik di kawasan terus berkembang setelah pada 28 Februari Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang disebut menewaskan lebih dari 3.000 orang. Situasi tersebut kemudian memicu ketegangan yang berlanjut hingga muncul kesepakatan gencatan senjata.
Kesepakatan penghentian permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran resmi diumumkan mulai 8 April, yang kemudian dilanjutkan dengan proses negosiasi lanjutan yang dimediasi di Islamabad, Pakistan, sebagai upaya meredakan eskalasi konflik di kawasan.
Perkembangan terbaru terjadi pada Jumat (1/5), ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirimkan surat kepada Kongres AS dan menyatakan berakhirnya permusuhan terhadap Iran. Dalam pernyataannya, Trump juga menegaskan bahwa pasukan Amerika masih tetap berada di wilayah tersebut untuk mengantisipasi potensi ancaman dari Iran di masa mendatang.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling strategis dan vital di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Sebagai jalur utama bagi distribusi minyak mentah global, selat ini menjadi urat nadi energi dunia karena dilewati oleh puluhan kapal tanker setiap harinya yang mengangkut sekitar seperlima dari total konsumsi minyak bumi global.
Secara geografis, selat yang diapit oleh Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan ini memiliki lebar penyempitan hanya sekitar 33 kilometer, namun peran geopolitiknya sangat besar karena setiap gangguan pada arus lalu lintas di wilayah ini dapat memicu fluktuasi harga energi secara instan di pasar internasional.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah menempatkan Selat Hormuz sebagai "senjata" geopolitik yang sangat kuat, di mana Iran berulang kali mengancam akan menutup jalur tersebut sebagai respons atas tekanan ekonomi dan sanksi militer dari Barat.
Posisi geografis Iran yang menguasai garis pantai utara selat ini memungkinkan mereka untuk memantau dan menginterogasi setiap kapal yang melintas, menciptakan situasi gesekan yang sering kali berujung pada penyitaan kapal tanker atau insiden keamanan lainnya.
Bagi Amerika Serikat, menjaga selat ini tetap terbuka adalah prioritas keamanan nasional yang absolut guna memastikan stabilitas pasokan energi global dan melindungi kepentingan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































