REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langkah Israel yang memblokade akses masuk Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina, bagi kaum Muslimin menuai kecaman luas. Aqsa Working Group (AWG) menilai, tindakan penutupan paksa tersebut adalah bagian dari upaya sistematis Yahudisasi yang dilakukan oleh rezim zionis di wilayah Palestina.
Ketua Presidium AWG Anshorullah mengatakan, penutupan dan pembatasan akses ke Masjid Al Aqsa pada Ramadhan tahun ini menunjukkan watak kolonial dan diskriminatif Israel terhadap umat Islam dan rakyat Palestina. Ia menyebut, kebijakan tersebut merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Ramadhan di kawasan itu.
“Pencegahan ini sejatinya adalah upaya Yahudisasi terhadap Masjid Al Aqsa sekaligus de-Islamisasi di Baitul Maqdis dan seluruh Palestina,” ujar Anshorullah dalam pernyataan resmi, dikutip pada Rabu (18/3/2026).
Menurut dia, pembatasan tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi sistematis yang lebih luas. Ada ambisi Israel untuk mengubah identitas keislaman pada berbagai situs suci umat Islam di wilayah Palestina. Termasuk di antaranya adalah Masjid Ibrahimi di Hebron. Selain itu, Anshorullah mengingatkan, sejak konflik meletus pada 7 Oktober 2023 hingga kini pun, militer Israel (IDF) terus memborbardir Jalur Gaza, termasuk menghancurkan masjid-masjid di sana.
AWG menegaskan, tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan sekaligus mencederai kesucian tempat ibadah.
Karena itu, AWG mengutuk keras kebijakan pembatasan akses ke Masjid Al Aqsa yang dinilai dibuat dengan alasan tidak berdasar. Menurut Anshorullah, tindakan Israel tersebut secara nyata bertujuan menghalangi umat Islam menjalankan ibadah, khususnya pada bulan suci Ramadhan.
Bagaimanapun, tegas dia, upaya Yahudisasi dan de-Islamisasi di tanah suci ketiga bagi kaum Muslimin ini tidak akan berhasil. Blokade yang dilakukan justru akan membawa konsekuensi buruk bagi pelakunya.

2 hours ago
1















































