Jogja Dibanjiri Pameran Buku, Bagaimana Daya Belinya?

8 hours ago 5

Jogja Dibanjiri Pameran Buku, Bagaimana Daya Belinya?

Pengunjung mengamati buku yang dijual saat Big Bad Wolf Book Yogyakarta 2026 di Jogja Expo Centre, Bantul, D.I Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026). Acara yang menampilkan lebih dari satu juta buku tersebut menjadi media penguat ekosistem literasi dengan menargetkan penambahan pembaca baru khususnya mahasiswa dan pelajar. Antara/Andreas Fitri Atmoko/agr\r\n

Harianjogja.com, BANTUL— Maraknya pameran buku di Jogja dalam beberapa waktu terakhir belum otomatis membuat penjualan meningkat. Penyelenggara Jogja Book Fair justru mengakui penjualan mengalami penurunan dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya karena banyaknya pameran buku yang digelar dalam waktu berdekatan.

Ketua Panitia Jogja Book Fair Robith Yusuf Efendi mengatakan jumlah pengunjung masih tergolong tinggi, terutama dari kalangan anak muda dan keluarga. Namun, tingginya jumlah kunjungan tersebut belum dapat langsung disamakan dengan banyaknya buku yang terjual.

"Kalau ditotal mungkin ya mengalami penurunan, kalau event-nya cuma satu aja mungkin ya dia rame, tapi kan kalau sudah banyak kan pengunjungnya terbagi-bagi," kata dia, Minggu (6/9).

Menurut Robith, banyaknya pameran buku membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan tempat untuk berburu buku. Kondisi tersebut kemudian turut memengaruhi jumlah kunjungan dan penjualan di setiap pameran.

Selain persaingan antaragenda pameran, daya beli masyarakat juga disebut ikut memengaruhi penjualan buku. Penyelenggara melihat kemampuan belanja masyarakat saat ini cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Penurunan ini mungkin disebabkan oleh banyak faktor sih Mas, menurut kami ya. Ada faktor apa, pameran buku yang pruntrun banyak banget. Terus yang kedua memang daya beli masyarakat memang agak turun juga," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, banyaknya agenda pameran buku belum tentu mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat terhadap buku. Jumlah pengunjung yang datang ke lokasi pameran juga tidak otomatis menunjukkan tingginya transaksi.

Jogja Book Fair Tetap Ramai Pengunjung

Meski penjualan mengalami penurunan, Jogja Book Fair tetap mampu menarik ribuan pengunjung setiap harinya. Rata-rata jumlah pengunjung mencapai sekitar 1.500 orang per hari dan meningkat saat memasuki akhir pekan.

"Kalau pengunjungnya itu rata-rata harian seribu lima ratus. Kalau weekend kayak gini bisa sampai dua ribu, dua ribu lima ratus," katanya.

Dari pengamatan panitia, karakter pengunjung juga berbeda antara hari biasa dan akhir pekan. Pada hari biasa, pengunjung lebih banyak berasal dari kalangan anak muda, sedangkan saat akhir pekan keluarga terlihat lebih mendominasi.

"Kalau melihat sekilas ya, itu anak muda sih. Sama keluarga. Kalau weekend ini keluarga banyak, kalau hari-hari itu anak muda," ujarnya.

Sementara itu, panitia belum dapat menyampaikan jumlah buku yang telah terjual selama penyelenggaraan Jogja Book Fair. Data penjualan masih belum tersedia karena pencatatan di bagian kasir belum selesai.

"Kalau buku yang laku belum ada datanya karena di kasir belum punya data," ungkapnya.

Banyak Pameran Buku Jadi Tanda Gairah Membaca?

Pandangan berbeda disampaikan Inisiator JBF Wawan Arif. Ia melihat maraknya pameran buku di Jogja dari sisi lain, yakni sebagai tanda adanya gairah masyarakat terhadap kegiatan membaca.

Menurut Wawan, semakin banyak kegiatan buku justru memberikan masyarakat lebih banyak pilihan untuk mendapatkan bahan bacaan. Pameran tersebut dapat berbentuk festival yang dilengkapi berbagai acara maupun bazar yang fokus pada kegiatan memamerkan dan menjual buku.

"Di satu sisi, kami tentu senang melihat bergairahnya kegiatan buku, baik itu yang bersifat festival, di mana pameran buku akan melengkapi atau dilengkapi dengan serangkaian acara, maupun yang memang jenisnya bazar, di mana kegiatannya memang khusus untuk memamerkan dan menjual buku," jelas Wawan.

Menurutnya, keberadaan berbagai pameran buku membuat masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengakses bahan bacaan. Namun, ia mengakui ada kemungkinan muncul kejenuhan apabila sejumlah pameran berlangsung beruntun atau bahkan beririsan jadwal.

"Kekhawatiran yang saya rasakan tentu masih sekadar asumsi. Bisa jadi itu tidak benar karena mungkin pemandangan ini justru sesuatu yang ditunggu-tunggu," ujarnya.

Wawan mengatakan JBF memiliki pengalaman tersendiri dalam melihat perkembangan minat masyarakat terhadap pameran buku. JBF mencatat kegiatan pameran buku sempat mengalami penurunan animo penerbit maupun masyarakat pada periode 2013-2023.

Kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan Jogja Book Fair sejak kembali digelar pada 2023. Berdasarkan penyelenggaraan yang mereka amati, jumlah pengunjung dan transaksi terus tumbuh dari tahun ke tahun.

"Jogja Book Fair, misalnya, sejak kami aktifkan penyelenggaraanya kembali sejak 2023 menunjukkan pertumbuhan itu. Pengunjung dan jumlah transaksi terus tumbuh dari tahun ke tahun," katanya.

Big Bad Wolf Books Juga Disambut Positif

Fenomena maraknya pameran buku tersebut terjadi ketika pameran berskala besar juga berlangsung di Jogja. Salah satunya Big Bad Wolf Books Jogja 2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC).

Public Relations Big Bad Wolf Books Jogja 2026, Andri, mengatakan penyelenggaraan tahun ini mendapat respons positif dari masyarakat. Pengunjung datang dari berbagai kelompok, mulai dari keluarga, pelajar, mahasiswa hingga komunitas.

“Melihat antusiasme masyarakat selama pelaksanaan Big Bad Wolf Books Jogja 2026, kami melihat bahwa minat masyarakat terhadap buku dan aktivitas membaca di Jogja masih sangat positif,” ujarnya.

Antusiasme tersebut juga terlihat dari jumlah pengunjung pada hari pertama Big Bad Wolf Books Jogja 2026. Andri menyebut jumlah pengunjung pada hari pertama tahun ini meningkat 10% dibandingkan hari pertama penyelenggaraan tahun lalu.

Peningkatan itu menjadi salah satu indikator bahwa pameran buku masih mendapat tempat di tengah masyarakat. Menurut Andri, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan buku masih memiliki daya tarik, termasuk buku-buku internasional yang menjadi salah satu fokus Big Bad Wolf.

Terkait kemampuan daya beli masyarakat, Andri menilai masyarakat saat ini semakin mempertimbangkan keputusan dalam membelanjakan uangnya. Pengunjung dinilai cukup responsif terhadap berbagai penawaran dan promo yang diberikan selama pameran.

“Promo tentunya menjadi salah satu upaya kami untuk membuat buku-buku berkualitas internasional tetap dapat diakses oleh masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau, dan sepertinya masyarakan sudah mulai sadar dengan pentingnya akses buku internasional yang diberikan oleh BBW,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|