Kasus Yurizal Disoroti, Asosiasi Rumah Sakit Dorong Perluasan Akses BPJS Kesehatan

4 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus meninggalnya pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, menjadi sorotan publik setelah pasien mengeluhkan tidak dapat ruangan setelah menunggu 8 jam. Kasus itu menunjukkan masih adanya permasalahan dalam pelayanan kesehatan.

Ketua Umum Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Iing Ichsan Hanafi, kasus itu harus menjadi bahan bagi BPJS Kesehatan memperluas kerja sama dengan rumah sakit swasta. Dengan perluasan layanan itu, pasien BPJS Kesehatan tidak akan menumpuk di satu rumah sakit. Pasalnya, saat ini hampir 90 persen pasien di rumah sakit swasta yang bekerja sama dengan BPJS merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Dengan dibukanya layanan ini, rumah sakit ini tentunya kan akan menjadi banyak pilihan untuk para pasien atau warga negara untuk berobat. Dia mau berobat ke mana saja tuh artinya banyak pilihan," kata dia saat dihubungi Republika, Jumat (7/8/2026).

Karena itu, tingginya jumlah pasien pasien BPJS Kesehatan perlu diimbangi dengan pembukaan akses terhadap lebih banyak fasilitas kesehatan. Dengan begitu, pasien yang menghadapi antrean panjang di satu fasilitas kesehatan dapat memiliki pilihan untuk mendapatkan layanan di tempat lain.

"Karena selama ini terkadang rumah sakit yang mau melakukan kerja sama dengan BPJS aja memakan waktu lama, harus kredensial lagi," kata dia.

Iing juga menyoroti perlunya memperluas cakupan layanan yang dapat diakses peserta JKN di rumah sakit swasta. Ia mencontohkan layanan jantung, kemoterapi, dan hemodialisis yang menurutnya perlu lebih mudah diakses melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

"Kadang-kadang misalnya tempat hemodialisis sudah 10, penuh gitu kan, mau nambah lagi, itu sangat ya kadang-kadang sangat sulit gitu. Menurut saya mah jadi dibukalah akses-akses itu, jadi masyarakat akan menjadi mendapatkan pilihan," ujar dia.

Iing menilai, perluasan akses tersebut penting karena peserta JKN tidak hanya berasal dari wilayah tempat rumah sakit berada. Pasalnya, rumah sakit di kota besar kerap menerima rujukan pasien dari daerah sekitar yang memiliki keterbatasan dokter maupun jadwal pelayanan.

"Kadang-kadang kita dapat rujukan dari Bekasi, Depok, atau Tangerang, itu kan bisa saja terjadi. Begitupun sebaliknya," kata dia.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|