Kisah di Balik Antrean 37 Km Gilimanuk yang Cepat Terurai

7 hours ago 5

Menhub Dudy Purwagandhi memimpin langsung penguraian antrean di Pelabuhan Gilimanuk bersama Kepala Korlantas Polri, direksi ASDP, dan TNI.

Oleh : Muhammad Nursyamsi, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Arus mudik Lebaran 2026 kembali menguji ketahanan sistem transportasi nasional. Salah satu potret paling nyata terjadi di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, sebagai gambaran tekanan mobilitas masyarakat Indonesia. Sejak Sabtu (14/3/2026), kendaraan mulai mengular. Dalam beberapa hari, antrean tak hanya panjang, tetapi ekstrem, mencapai sekitar 37 kilometer (km).

Dalam situasi seperti itu, angka bukan sekadar data. Ia mewakili waktu yang terbuang, kelelahan pemudik, dan meningkatnya tekanan di lapangan. Terlebih, kepadatan tidak hanya terjadi di satu sisi.

Pada Senin (16/3/2026), antrean memang sempat ditekan ke kisaran 28 kilometer melalui berbagai upaya KSOP, ASDP, dan Polri. Namun, tekanan terus bertambah, bahkan mulai merambat ke Pelabuhan Ketapang.

Di titik inilah situasi berubah dari padat menjadi krusial. Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk memang memiliki karakteristik berbeda dibanding ruas jalan tol. Ia adalah sistem tertutup dengan kapasitas terbatas. Ketika sisi hilir tersendat, maka sisi hulu akan langsung terdampak. Dalam konteks ini, penyelesaian tidak bisa parsial. Masalah di satu titik harus diselesaikan dari akarnya.

Selasa (17/3/2026) menjadi titik balik. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi turun langsung ke lapangan. Bukan hanya melakukan peninjauan, tetapi memimpin penanganan di titik krusial.

Menhub bersama direktur utama Jasa Marga, direktur utama Pelindo, komisaris ASDP, dan Kakorlantas Polri menggunakan pesawat kalibrasi milik Kementerian Perhubungan menuju Banyuwangi untuk mempercepat mobilitas di tengah padatnya agenda pengawasan mudik dari Tol Jakarta–Cikampek hingga penyeberangan Merak–Ciwandan.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|