REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Munculnya narasi yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dengan kemungkinan terjadinya Reformasi Jilid II dinilai tidak memiliki dasar yang kuat. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini disebut masih jauh berbeda dibandingkan krisis multidimensi yang melanda Indonesia pada 1998.
Analis Politik Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung Kristian Widya Wicaksono mengatakan, perbandingan antara situasi saat ini dan krisis 1998 tidak tepat jika dilihat dari berbagai indikator ekonomi maupun kondisi politik nasional. “Secara ilmiah, kondisi tahun 2026 tidak bisa disamakan dengan krisis hebat tahun 1998," kata Kristian, Jumat (12/6/2026).
Menurut Kristian, Indonesia memang sedang menghadapi tekanan ekonomi akibat ketidakpastian global. Namun, tekanan tersebut belum mencapai tingkat yang dapat dikategorikan sebagai krisis sistemik seperti yang terjadi pada akhir Orde Baru.
“Indonesia saat ini sedang berada dalam fase stres ekonomi yang berat, tetapi belum masuk dalam fase kehancuran makro seperti 1998," jelasnya.
Kristian menjelaskan, krisis 1998 dipicu oleh kombinasi berbagai persoalan yang terjadi secara bersamaan, mulai dari runtuhnya sistem keuangan, lonjakan inflasi, gelombang pemutusan hubungan kerja, hingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Data terkini menunjukkan kondisi ekonomi nasional masih tumbuh positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi masih berada pada level yang relatif terkendali. BPS melaporkan inflasi tahunan pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen, jauh di bawah tingkat inflasi yang terjadi saat krisis 1998 yang melampaui 80 persen.
"Pada 1998, Indonesia mengalami krisis sistemik dengan kontraksi ekonomi mencapai 10-15 persen dan inflasi melampaui 80 persen," ungkap Kristian.
Ia menilai kondisi saat ini masih berbeda karena pemerintah dan otoritas ekonomi memiliki instrumen yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas nasional.
"Kondisi makroekonomi saat ini menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Bank Indonesia masih melaporkan surplus perdagangan yang berkelanjutan dan inflasi yang relatif tetap terkendali dalam kisaran sasaran, meski di tengah tekanan yang meningkat," katanya.
Karena itu, Kristian mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh narasi yang menyamakan pelemahan rupiah saat ini dengan situasi menjelang Reformasi 1998. Menurut dia, setiap perkembangan ekonomi perlu dilihat secara utuh berdasarkan data dan indikator yang tersedia.
Ia menambahkan, penyebaran narasi yang tidak didukung data berisiko menimbulkan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat dan dapat memengaruhi persepsi publik terhadap kondisi ekonomi nasional.
Menurut Kristian, Indonesia saat ini masih memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat dibandingkan periode menjelang krisis 1998. Karena itu, narasi yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan peluang terjadinya Reformasi Jilid II dinilai belum memiliki landasan yang memadai.

19 hours ago
11

















































