Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis ekonomi menyerang negara kaya minyak Nigeria. Di tengah kenaikan inflasi, yang menganggu anggaran rumah tangga, warga kini terancam menjadi gembel akibat tingginya harga sewa rumah.
Dengan populasi lebih dari 20 juta, ibu kota Lagos yang jadi pusat ekonomi Nigeria selama bertahun-tahun, memang telah berjuang untuk memenuhi permintaan perumahan. Kota itu mengalami pertambahan orang sekitar 3.000 populasinya per hari.
Namun reformasi ekonomi yang dipimpin pemerintah, dengan "mengambangkan" mata uang Naira dan pencabutan subsidi bahan bakar, telah mengirimkan guncangan ke seluruh ekonomi membuat warga makin kesulitan. Hal ini terlihat dari pengakuan sejumlah warga Lagos, dimuat AFP, Jumat (28/2/2025).
Harga sewa rumah rata-rata naik sebesar 28% dari 350.000 naira (Rp 3,8 juta) per tahun menjadi 450.000 naira. Jumlah ini sangat signifikan di negara dengan PDB per kapita sebesar US$835 (Rp 13,8 juta).
"Saya mungkin harus mencari cara untuk memohon kepada tuan tanah saya," kata wanita Yemisi Odusanya, 40 tahun, yang mengaku kesulitan setelah tuan tanahnya menaikkan sewa hingga 120%.
"Saya berencana untuk pindah," kata Bartholomew Idowu, seorang pekerja transportasi, walau ia dan anak-anaknya tidak yakin ke mana akan pergi.
Sebenarnya, pemerintah telah merevisi data inflasi. Indeks Harga Konsumen (IHK) resmi tahun ke tahun (yoy) pada bulan Januari menjadi 24,48%, dari angka 34,80% pada bulan Desember.
Namun ini tidak banyak menghibur bagi warga Nigeria biasa. Kenaikan harga sewa rumah pun kerap tak dinegosiasikan pemilik, yang langsung mematok harga.
"Jalan keluar saat ini adalah mencari cara untuk membayar," kata seorang jurnalis, yang mencatat bahwa kenaikan sewa sebesar 31% masih lebih murah daripada pindah, Dennis Erezi.
"Pindah... berarti ia harus menjauh dari klien, kedua anak harus pindah sekolah dan sekarang harus membayar transportasi karena tidak lagi tinggal cukup dekat untuk berjalan kaki ke sekolah," ujar seorang pelatih pribadi, Jimoh Saheed.
"Ini memengaruhi saya secara emosional, memengaruhi saya secara mental, dan bahkan, secara fisik," tambah pria berusia 39 tahun itu, yang mengatakan penghasilannya tidak mengikuti laju inflasi meskipun mengambil lebih banyak pekerjaan.
Menurut sejumlah analis, pemerintah sebenarnya berharap reformasi ekonomi membuahkan hasil. Tetapi selama hampir dua tahun warga Nigeria telah berjuang keras melalui krisis ekonomi terburuk dalam satu generasi.
"Ada pula masalah struktural yang berperan: suku bunga tinggi berarti hipotek berada di luar jangkauan sebagian besar, dan pengembang menghadapi lingkungan regulasi birokrasi," kata analis perumahan Babatunde Akinpelu.
"Sebagian besar tuan tanah (Lagos) terpapar pada pengeluaran dalam denominasi dolar, seperti pinjaman atau hipotek untuk properti di luar negeri, bahkan saat nilai naira telah anjlok," kata Direktur Island Shoreline, sebuah perusahaan manajemen properti.
"Peningkatan transportasi umum (oleh pemerintah), seperti jalur kereta api baru yang menghubungkan Lagos dan Ibadan, mungkin dapat mengurangi tekanan, tetapi untuk saat ini ada efek bola salju dari kenaikan harga," ujarnya.
Di sisi lain, lonjakan sewa saat ini mengkhawatirkan agen real estat Ismail Oriyomi Akinola. Di wilayah Pulau Victoria misalnya, lonjakan sewa mencapai 200%.
"Tempat tinggal yang baik sangat penting bagi setiap individu," katanya.
"Tidak hanya bagi orang kaya."
Perlu diketahui Nigeria sendiri adalah produsen terbesar minyak Afrika. Namun tidak ada kilang yang cukup memaksa negara itu menginpor bahan bakar.
(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:
Trump Damaikan Putin-Zelensky - WN Tetangga RI Terancam Miskin
Next Article RI Deflasi Beruntun 5 Bulan, Mirip Situasi Mengerikan 1998