
Oleh : M Azrul Tanjung, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah
REPUBLIKA.CO.ID, Lebaran selalu datang dengan nuansa kemenangan dan kegembiraan. Setelah sebulan menahan diri, manusia seperti dilahirkan kembali—fitri, bersih, dan ringan. Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur: apakah kesucian itu hanya berhenti pada diri, atau juga menyentuh bumi yang kita pijak?
Di banyak tempat, saat dan pasca-lebaran , kita menyaksikan paradoks. Sampah meningkat, plastik berserakan, sisa makanan terbuang dalam jumlah besar. Rumah menjadi bersih, tetapi lingkungan justru terbebani. Seolah-olah kesalehan personal tidak sempat bertransformasi menjadi kesalehan ekologis.
Padahal, jika ditarik lebih dalam, Ramadhan dan Lebaran sesungguhnya adalah latihan etika yang sangat ekologis. Puasa mengajarkan pengendalian konsumsi. Zakat dan sedekah mengajarkan distribusi yang adil. Idul Fitri mengajarkan kembali pada keseimbangan. Semua ini, jika dibaca dalam perspektif yang lebih luas, adalah fondasi bagi cara hidup yang ramah lingkungan.
Makna ‘fitri’ tidak sekadar bersih dari dosa, tetapi juga kembali pada tatanan alam (fitrah) yang seimbang. Alam tidak pernah rakus. Ia memberi secukupnya, mengambil secukupnya, dan selalu menjaga siklus. Ketika manusia melampaui itu—konsumsi berlebihan, produksi sampah tak terkendali dan seterusnya—ia sejatinya telah keluar dari fitrah. Maka Lebaran seharusnya menjadi momentum koreksi, bukan hanya spiritual tetapi juga ekologis.
Salah satu inspirasi penting dalam konteks ini adalah konsep Green Hajj. Kebetulan penulis terlibat dalam perumusan dan sosialisasi konsep ini. Jadi, dalam beberapa tahun terakhir, penyelenggaraan ibadah haji mulai diarahkan pada praktik yang lebih ramah lingkungan: pengurangan sampah plastik, pengelolaan limbah makanan, penggunaan energi yang lebih efisien, hingga edukasi jamaah untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutan selama ibadah berlangsung.
Ini menarik. Haji, sebagai ibadah massal terbesar di dunia, justru dijadikan laboratorium etika lingkungan. Bayangkan jutaan orang berkumpul di satu tempat. Tanpa pengelolaan yang baik, itu bisa menjadi bencana ekologis. Tetapi dengan kesadaran kolektif dan sistem yang tepat, ia berubah menjadi model pembelajaran global. Ada pesan penting di sana: ibadah tidak boleh merusak lingkungan, bahkan harus menjadi sarana merawatnya.
Jika Green Hajj bisa menjadi model, maka Lebaran di tingkat lokal seharusnya juga bisa bergerak ke arah yang sama. Kita bisa membayangkan “Green Lebaran” sebagai gerakan sosial-kultural sebagai berikut.
Pertama, mengendalikan konsumsi. Lebaran tidak harus identik dengan pemborosan makanan. Menyajikan secukupnya justru lebih dekat dengan nilai syukur yang diajarkan dalam Islam.
Kedua, mengurangi sampah plastik. Tradisi berbagi makanan bisa diarahkan menggunakan wadah ramah lingkungan—daun, kotak makan yang bisa dipakai ulang, atau sistem pinjam-pakai antarwarga. Ingat, jangan pernah sekalipun membakar sampah plastik semata demi ingin bersih dari sampah. Bila harus dibuang, sampah plastik lebih baik dikumpulkan tersendiri, jangan biarkan ia bercanpur dengan sampah organik.
Ketiga, mengelola sisa makanan. Alih-alih dibuang, sisa makanan bisa diolah menjadi kompos atau didistribusikan kembali. Ini bukan sekadar teknis, tetapi soal cara pandang: bahwa makanan adalah amanah, bukan komoditas sekali pakai.
Keempat, menjadikan masjid dan komunitas sebagai pusat edukasi lingkungan. Seperti halnya Green Hajj melibatkan otoritas dan jamaah, Lebaran juga bisa menjadi momentum kolektif untuk membangun kesadaran ekologis berbasis iman.
Di sinilah pentingnya kita mengaitkan antara tauhid dan ekologi. Jika Allah adalah Tuhan pencipta semesta alam, maka merusak lingkungan berarti merusak ciptaan-Nya. Sebaliknya, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Kesalehan tidak lagi berhenti pada relasi vertikal, tetapi meluas ke relasi horizontal dengan sesama makhluk.
Lebaran, dengan demikian, bukan hanya perayaan spiritual, tetapi juga deklarasi etika hidup. Ia mengajarkan bahwa manusia yang kembali pada fitrah adalah manusia yang mampu hidup selaras—dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam.
Barangkali, di masa depan, ukuran keberhasilan Lebaran tidak hanya dilihat dari seberapa khusyuk kita beribadah, tetapi juga dari seberapa sedikit jejak kerusakan yang kita tinggalkan. Karena pada akhirnya, bumi juga berhak merasakan ‘Idul Fitri’-nya sendiri: kembali bersih, kembali seimbang, dan kembali hidup.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
1
















































