Sebuah proyektil dari Iran menuju Israel melintasi langit di atas kota Nablus, Tepi Barat, 11 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID TEL AVIV -- Israel terus menghadapi serangan rudal balistik Iran setiap hari ke berbagai bagian negara. Serangan Iran, termasuk penggunaan amunisi klaster, yang pecah di udara sehingga menjadi bom-bom lebih kecil dan dianggap sangat berbahaya.
Mantan komandan Otoritas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Aaron Godiner, saat wawancara dengan Maariv pada Ahad, membahas bahaya amunisi klaster, dan pecahan rudal Iran.
"Bom klaster pecah di udara pada ketinggian tinggi dan jatuh dalam radius yang luas hingga beberapa kilometer," kata Aaron Godiner, mantan komandan Otoritas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Ramat Gan-Givatayim, dalam wawancara Ahad dengan Maariv, dilansir the Jerusalem Post.
Ketika bom-bom yang lebih kecil, masing-masing berbobot antara tiga dan lima kilogram meledak, bom-bom tersebut dapat menyebabkan kerusakan parah.
"Kerusakan ini dapat berkisar dari penghancuran apartemen tempat tinggal jika jatuh di daerah padat penduduk, hingga penghancuran kendaraan jika terkena langsung, atau kerusakan signifikan akibat kebakaran dan kawah di jalan."
Bom-bom tersebut dapat menyebabkan keruntuhan dan kerusakan internal yang signifikan terhadap bangunan tempat tinggal. "Tingkat kerusakannya bergantung pada di mana bom tandan itu jatuh dan pada sudut berapa."
Godiner juga memperingatkan bahwa pecahan bom yang meledak di tanah dapat tersebar dengan lintasan yang tidak terduga.
"Ini adalah salah satu alasan mengapa Komando Pertahanan Dalam Negeri secara khusus mendesak masyarakat untuk tidak mendekati atau menyentuh apa yang tampak seperti pecahan atau puing-puing pencegatan, untuk menjauhkan orang lain, dan untuk menghubungi polisi," tegasnya.

4 hours ago
4














































